Heboh Misteri Pengakuan Freddy Budiman Kepada Haris Azhar

Alm Freddy Budiman

Alm Freddy Budiman

Oleh: Freddy Ilhamsyah PA

Empat dari 14 terpidana mati sudah dieksekusi mati di kawasan Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia pada Jumat, 29 Juli 2016 dini hari sekitar pukul 00.46 WIB.

Menurut Sindonews.com dalam berita berjudul “Empat Terpidana Mati Sudah Dieksekusi, Termasuk Freddy Budiman” (Jum’at, 29 Juli 2016 − 02:17 WIB) menulis, mereka yang telah dieksekusi mati itu adalah Freddy Budiman, Michael Titus, Humprey Ejike dan Cajetan Uchena Onyeworo Seck. Eksekusi dilakukan di lapangan tembak Limus Buntu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Dalam berita itu juga ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak Kejaksaan Agung dan pihak berwenang terkait pelaksanaan eksekusi mati ini.

Yang jadi pertanyaan publik, kenapa hanya almarhum Freddy Budiman (40) saja yang digadang-gadang oleh media nasional sehingga menjadi top news? Kenapa pers “meninggalkan” tiga tereksekusi mati lainnya ?

Menurut prakiraan penulis, almarhum Freddy Budiman (lahir di Surabaya, Jawa Timur 19 Juli 1976) yang dieksekusi mati pada Jumat, 29 Juli 2016 atau 10 hari menjelang Ulang Tahunnya yang ke 40 telah menjadi semacam “Mr. Blower” atas pengakuannya kepada Kontras Haris Azhar.

Penulis jadi teringat dengan kasus Nazaruddin yang juga jadi Mr.Blower terkuaknya kasus Hambalang dan beberapa kasus lainnya sehingga menyeret beberapa penyangkal masuk ke jaring KPK dan dijebloskan ke penjara.

Kisah “misteri” pengakuan si pemilik 1.412.476 butir ekstasi itu juga bukan hanya menyedot perhatian pers tapi juga jadi perhatian Kapolri dan beberapa anggota Komisi III DPR RI termasuk jadi perhatian publik setelah dipublikasikan oleh media (elektronik dan cetak) mengenai pengakuan Freddy Budiman, terpidana mati karena menjadi gembong narkoba atau pebisnis narkoba yang berawal dari hasil perbincangan antara Haris Azhar (Koordinator Komisi Nasional untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dengan Freddy Budiman yang diposting di dinding akun Facebook dan Twitter Kontras pada Kamis, 28 Juli 2016 yang kemudian disebarluaskan oleh Sindonews.com melalui berita berjudul “Diusut, Curhat Freddy Budiman Beri Rp90 M kepada Pejabat Polri” pada Jum’at, 29 Juli 2016 pukul 21:22 WIB dan beberapa media nasional lainnya.

Buntutnya, publik dibuat kaget dengan adanya pernyataan Freddy kepada Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar bahwa dia mengaku kerap menjadi ‘perahan’ oknum aparat hukum. Pernyataan itu disampaikan kepada Haris saat berkunjung ke Lapas Nusakambangan pada medio 2014.

Walaupun belum ada bukti otentik dengan apa yang dicurhatkan oleh mantan model majalah dewasa itu, testimoninya melalui Haris bisa dimanfaatkan pemerintah terutama aparat penegak hukum untuk menyelidiki kebenaran hal itu. Kalau ternyata benar, sikat yang terbukti dengan hukuman seberat-beratnya karena yang bersangkutan sudah ikut andil dalam memarakkan peredaran narkoba di Tanah Air.

Dikabarkan oleh Sindonews: Kepada Kontras Haris Azhar, Freddy buka-bukaan soal oknum Polri, BNN, hingga Bea Cukai yang ikut menikmati gurihnya bisnis narkoba.”Cerita itu confirm (benar) dituturkan saat 2014 lalu,” kata Haris saat dihubungi Sindonews, Jumat (29/7/2016).

Di bagian lain berita itu juga ditulis pengakuan Freddy kepada Haris sbb.: Freddy melanjutkan lagi. “Dan kenapa hanya saya yang dibongkar? Kemana orang-orang itu. Dalam hitungan saya selama beberapa tahun kerja menyelundupkan narkoba, saya sudah memberi uang Rp450 miliar ke BNN. Saya sudah kasih Rp90 miliar ke pejabat tertentu di Mabes Polri. Bahkan saya menggunakan fasilitas mobil TNI bintang 2, di mana si jendral duduk di samping saya ketika saya menyetir mobil tersebut dari Medan sampai Jakarta dengan kondisi di bagian belakang penuh barang narkoba. Perjalanan saya aman tanpa gangguan apapun.”

Pertemuan antara Haris Azhar dan Freddy di Lapas Nusakambangan terjadi pada medio 2014 lalu. Di tengah-tengah masa kampanye Pilpres 2014, Haris memperoleh undangan dari sebuah organisasi gereja yang aktif melakukan pendampingan rohani di Lapas Nusakambangan.

Kata-kata yang disampaikan Freddy kepada Haris seperti tersebut di atas tentu saja menimbulkan semacam tandatanya besar bagi sementara kalangan, apakah benar cerita Freddy seperti yang disampaikan Haris kepada Sindonews ? Ini perlu penyelidikan lebih mendalam baik oleh aparat penegak hukum terkait atau wartawan Sindonews untuk menggali lebih dalam lagi melalui indeep investigation reporting agar cerita Freddy kepada Haris bisa jadi terang-benderang.

Tandatanya besar di sementara kalangan harus segera terjawab dengan cara mengungkapkan siapakah ”mistery guest” di bawah ini

  1. Saya sudah memberi uang Rp450 miliar ke BNN.
  2. Saya sudah kasih Rp90 miliar ke pejabat tertentu di Mabes Polri.
  3. Bahkan saya menggunakan fasilitas mobil TNI bintang 2, di mana si jendral duduk di samping saya ketika saya menyetir mobil tersebut dari Medan sampai Jakarta dengan kondisi di bagian belakang penuh barang narkoba. Perjalanan saya aman tanpa gangguan apapun.
  4. Ketika ditanya Haris, dimana saya bisa dapat cerita ini ? Kenapa anda tidak bongkar cerita ini ? Freddy menjawab: “Saya sudah cerita ke lawyer saya, kalau saya mau bongkar, ke siapa? Makanya saya penting ketemu Pak Haris, biar Pak Haris bisa menceritakan ke publik luas, saya siap dihukum mati, tapi saya prihatin dengan kondisi penegak hukum saat ini. Coba Pak Haris baca saja di pleidoi saya di pengadilan, seperti saya sampaikan di sana.”

Lalu Haris mengaku mencari pleidoi Freddy Budiman di internet yang kaya data, tetapi pledoi tersebut tidak ada di website Mahkamah Agung, yang ada hanya putusan yang tercantum di website tersebut. Dalam putusan tersebut juga tidak mencantumkan informasi yang disampaikan Freddy, yaitu adanya keterlibatan aparat negara dalam kasusnya.

Kami di Kontras mencoba mencari kontak pengacara Freddy, tetapi menariknya, dengan begitu kayanya informasi di internet, tidak ada satu pun informasi yang mencantumkan di mana dan siapa pengacara Freddy. Dan kami gagal menemui pengacara Freddy untuk mencari informasi yang disampaikan, apakah masuk ke berkas Freddy Budiman sehingga bisa kami mintakan informasi perkembangan kasus tersebut.

Yang penulis anggap masih “misterius” yaitu:

  • Siapakah oknum petugas BNN yang menerima uang sebesar Rp450 miliar dari Freddy Budiman?
  • Siapakah oknum pejabat tertentu di Mabes Polri yang menerima uang Rp90 miliar dari Freddy Budiman ?
  • Siapakah oknum Jenderal TNI bintang 2 yang memberi fasilitas mobil kepada Freddy Budiman ?
  • Selain itu perlu digali, kenapa pihak BNN berkeberatan adanya kamera yang mengawasi Freddy Budiman ? Bukankah status Freddy Budiman sebagai penjahat kelas “kakap” justru harus diawasi secara ketat ? (seperti diungkapkan Haris kepada Sindonews).
  • Siapakah Hakim dan Jaksa yang menangani kasus Freddy Budiman ?
  • Siapakah ketika itu sebagai pengacaranya Freddy Budiman ?
  • Kenapa pengakuan Freddy Budiman kepada Haris Azhar yang diperoleh pada medio 2014 baru di-posting di dinding akun Facebook dan Twitter Kontras, pada Kamis, 28 Juli 2016 sehari menjelang eksekusi dilaksanakan ?
  • Kenapa ada oknum pejabat BNN yang sering berkunjung ke Nusakambangan minta kepada Sitinjak (Kepala Lapas Nusa Kambangan (NK) saat itu, agar mencabut dua kamera yang mengawasi Freddy Budiman tersebut ?

Seharusnya pada tahun 2014 pengakuan Freddy Budiman diungkapkan ke media dan kalau kawatir mengungkapkannya ke aparat penegak hukum terkait (karena diduga ada yang terlibat), paling tidak dikoordinasikan atau disampaikan kepada presiden secara terang-benderang bahwa ada oknum-oknum tertentu (nama-namanya ini – kalau memang ada disebutkan nama) yang “main-mata” dengan terpidana mati Freddy Budiman agar kegiatan operasinya (Freddy) bisa berjalan lancar.

Terkait mengenai pledoi Freddy Budiman, kenapa tidak dimuat di website Mahkamah Agung, kecuali hasil keputusan Mahkamah Agung. Dalam putusan tersebut juga tidak mencantumkan informasi yang disampaikan Freddy, yaitu adanya keterlibatan aparat negara dalam kasusnya. Ungkap Haris.

Menurut Haris (seperti yang diberitakan Sindonews) Kami di Kontras mencoba mencari kontak pengacara Freddy, tetapi menariknya, dengan begitu kayanya informasi di internet, tidak ada satu pun informasi yang mencantumkan dimana dan siapa pengacara Freddy. Dan kami gagal menemui pengacara Freddy untuk mencari informasi yang disampaikan, apakah masuk ke berkas Freddy Budiman sehingga bisa kami mintakan informasi perkembangan kasus tersebut.

Permasalahannya menurut pendapat penulis, kalau sekiranya pengakuan Freddy Budiman segera ditindaklanjuti, paling tidak, dan atau mungkin presiden bisa mempertimbangkan pelaksanaan eksekusi mati terhadap terpidana (Freddy) agar dapat ditunda untuk membongkar jaringan narkoba yang boleh dikatakan sudah “menggurita” di Indonesia. Contohnya, 10 orang terpidana eksekusi mati lainnya bisa ditunda dengan berbagai alasan. Kenapa ada yang sudah divonis hukum mati lebih lama dari Freddy Budiman bisa ditunda pelaksanaan eksekusinya ?

Sementara Freddy Budiman yang divonis hukuman mati pada tahun 2013 karena menjadi gembong narkoba atau pebisnis narkoba sudah dieksekusi mati pada 29 Juli 2016 padahal waktu vonis hukuman mati itu baru berjalan 3 tahun. Ini tentu menimbulkan tandatanya besar di sementara kalangan. Ada apa ini ?

Pertanyaan lain muncul atas pernyataan Jampidum Kejaksaan Agung Noor Rachmad yang mengatakan, rencana awal jumlah terpidana mati yang akan dieksekusi berjumlah 14 orang. Namun dengan berbagai pertimbangan, hanya 4 terpidana yang akhirnya dieksekusi.

“Sementara ada 4 terpidana yang dieksekusi. Pertimbangannya keempat-keempatnya sudah mengajukan PK dua kali dan ditolak,” kata Noor di dermaga Wijaya Pura, Jumat (29/7/2016).

Menurutnya, pertimbangan lain eksekusi hanya dilakukan pada empat terpidana adalah karena keempatnya merupakan pemasok. Sedangkan 10 terpidana lainnya tidak seluruhnya pemasok.

Kalau menurut penulis, yang namanya sudah terpidana mati ya….harus dihukum mati. Apalagi sudah dipublikasikan bahwa pelaksanaan eksekusi mati pada Jum’at, 29 Juli 2016 ada sebanyak 14 orang. Kalau tidak ya….jangan diumumkan. Kalau pertimbangannya adalah itu, kenapa tidak diumumkan saja bahwa yang bakal dieksekusi mati pada hari itu adalah 4 orang ?

Masinton-Pasaribu1

Anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu

Anggota Komisi III DPR RI juga bertanya

Alasan Kejaksaan Agung (Kejagung) menunda eksekusi 10 terpidana mati kasus narkotika juga dipertanyakan anggota Komisi III DPR Nasir Djamil.

Nasir menilai Kejagung tidak menjelaskan tentang pertimbangan aspek yuridis dan non-yuridis alasan penundaan eksekusi 10 terpidana mati.

Dia khawatir penundaan eksekusi sepuluh terpidana mati ‎itu lebih karena ada tekanan atau instruksi dari pihak tertentu. “Kalau empat orang yang sudah dieksekusi itu bisa bangun, mereka akan tanya, kok sepuluh orang itu enggak ditembak seperti aku, enggak adil dong, kenapa?” ujar Nasir saat dihubungi wartawan, Jumat (29/7/2016).

Politikus Partai Keadilan Sejahtera ini berpendapat, seharusnya Jaksa Agung Muhammad Prasetyo menjelaskan penundaan eksekusi sepuluh terpidana mati itu secara utuh termasuk menjelaskan aspek yuridis dan non-yuridis.

Sementara anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu menyatakan, tertundanya eksekusi mati ini menggambarkan sikap Kejagung yang dinilai plin-plan. “Ya itu berarti plin-plan,” kata Masinton saat dihubungi Sindonews, Minggu (31/7/2016).

Politikus PDIP ini mengungkapkan, seharusnya eksekusi ini tidak boleh ditunda. Karena semua sudah mengetahui dan sudah diumumkan bahwa sejumlah 14 terpidana mati akan dieksekusi.

“Penundaan eksekusi terhadap 10 terpidana mati kasus narkoba menampakkan bahwa pelaksanaan eksekusi yang sudah memiliki putusan hukum tetap menjadi rapuh dan tidak jelas,” ucap Masinton.

jaksa-agung-muda-pidana-umum-noor-rachmad_20160105_140829

Jaksa Agung Muda Pidana Umum Noor Rachmad

Jampidum Kejaksaan Agung menjawab

Sindonews dalam berita berjudul “10 Terpidana Mati Batal Menghadapi Regu Tembak” yang dipublikasi pada Jum’at, 29 Juli 2016 pukul 03:05 WIB menulis, Jampidum Kejaksaan Agung Noor Rachmad mengatakan, rencana awal jumlah terpidana mati yang akan dieksekusi berjumlah 14 orang. Namun dengan berbagai pertimbangan, hanya 4 terpidana yang akhirnya dieksekusi.‎

“Sementara ada 4 terpidana yang dieksekusi. Pertimbangannya keempat-keempatnya sudah mengajukan PK dua kali dan ditolak,” kata Noor di dermaga Wijaya Pura, Jumat (29/7/2016).

Menurutnya, pertimbangan lain eksekusi hanya dilakukan pada empat terpidana adalah karena keempatnya merupakan pemasok. Sedangkan 10 terpidana lainnya tidak seluruhnya pemasok.

“Seck Osmani pemasok. Dia pemasok heroin. Humpret juga tampak kelicikannya, seolah-olah membuat warung,” jelas Noor.

‎Terkait pelaksanaan eksekusi 10 terpidana mati lainnya, Noor menyebut eksekusi tetap akan dilakukan secara bertahap. Namun Noor tidak menyebut waktu pastinya. “Tentu untuk periode berikutnya,” pungkasnya.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian (Sindophoto)

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian (Sindophoto)

Kapolri Telusuri Pengakuan Kontras Haris Azhar

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memberikan mandat kepada Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Boy Rafli Amar untuk menemui Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar.

Boy diminta untuk meminta penjelasan Haris mengenai informasi yang menyebut Freddy Budiman, terpidana mati perkara narkoba yang mengaku pernah memberi uang Rp90 miliar kepada pejabat di Mabes Polri.

“Kalau kita lihat yang beredar viral itu informasinya kan enggak jelas, ada polisi, ada disebut-sebut nama BNN. Ingin tahu, apakah Pak Haris mendapat informasi itu, ada enggak nama-nama yang jelas berikut buktinya,” kata Tito di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Jumat (29/7/2016).

Tito menjelaskan, jika benar ada data yang menyatakan hal tersebut maka Polri akan menindaklanjutinya. “Tapi kalau hanya data seperti viral saja, ini bisa diterjemahkan,” ujar mantan Kapolda Metro Jaya ini.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Boy Rafli Amar selaku penerima mandat dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian akan menemui Koordinator Komisi Nasional untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar.

Boy akan menanyakan kepada Haris terkait pernyataannya mengenai pengakuan terpidana mati Freddy Budiman yang pernah memberi uang kepada pejabat di Mabes Polri sebesar Rp90 miliar.

“Ada janji sama beliau (Haris), kita mau tahu seperti apa. Apa benar, agar tidak jadi fitnah,” kata Boy Rafli di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Jumat (29/7/2016).

Cerita tentang pengakuan terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman soal banyaknya oknum pejabat negara dalam bisnis narkotika menjadi perhatian publik pasca eksekusi yang dilakukan Kejaksaan Agung pada Jumat, 29 Juli 2016, dini hari.

Pejabat BNN keberatan adanya dua kamera pengawas ?

Pada bagian lain (cerita Haris kepada Sindonews) disebutkan: Saya patut berterima kasih pada Bapak Sitinjak, Kepala Lapas Nusa Kambangan (NK) saat itu, yang memberikan kesempatan bisa berbicara dengannya dan bertukar pikiran soal kerja-kerjanya.

Menurut saya, Pak Sitinjak sangat tegas dan disiplin dalam mengelola penjara. Bersama stafnya beliau melakukan sweeping dan pemantauan terhadap penjara dan narapidana.

Pak Sitinjak hampir setiap hari memerintahkan jajarannya melakukan sweeping kepemilikan HP dan senjata tajam. Bahkan saya melihat sendiri hasil sweeping tersebut, ditemukan banyak sekali HP dan sejumlah senjata tajam.

Tetapi malang Pak Sitinjak, di tengah kerja kerasnya membangun integritas penjara yang dipimpinnya, termasuk memasang dua kamera selama 24 jam memonitor Freddy budiman. Beliau menceritakan sendiri, beliau pernah beberapa kali diminta pejabat BNN yang sering berkunjung ke Nusakambangan, agar mencabut dua kamera yang mengawasi Freddy Budiman tersebut.

“Saya mengangap ini aneh, hingga muncul pertanyaan, kenapa pihak BNN berkeberatan adanya kamera yang mengawasi Freddy Budiman ? Bukankah status Freddy Budiman sebagai penjahat kelas “kakap” justru harus diawasi secara ketat ? Pertanyaan saya ini terjawab oleh cerita dan kesaksian Freddy Budiman sendiri,” kata Haris kepada Sindonews.

Sementara yang mengeluarkan pernyataan “aneh” juga muncul dari Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari 98) yang mensinyalir cerita Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar mengenai pengakuan terpidana mati Freddy Budiman menjelang eksekusi sebagai upaya pelemahan Badan Narkotika Nasional (BNN)

“Ini ada upaya melemahkan upaya pemberantasan narkoba oleh BNN,” tegas Ketua Dewan Presidium Jari 98 Willy Prakarsa di Jakarta, Jumat (29/7/2016).

Willy mempertanyakan sikap Haris yang baru menceritakan tentang keterlibatan aparat penegak hukum menjelang eksekusi terpidana mati. Cerita itu diposting di media sosial.

“Kalau mau punya niat baik, harusnya Haris buka dari awal,” ujarnya.

Dia juga mendesak Kontras untuk membuka nama oknum TNI yang disebut-sebut tersebut agar tidak menimbulkan saling curiga antara sesama bintang dua TNI.

“Kalau tidak membuka, berarti (Haris) menyebarkan berita bohong. Juga mencemarkan institusi TNI yang kita cintai. Itu buktikan jika tidak Haris perlu digugat oleh pihak TNI,” tuturnya. ***

Sumber data: sindonews.com dan harianterbit.com

Harga Minyak Mentah Dunia Terus Turun – Apa Kabar Indonesia ?

Oleh: Freddy Ilhamsyah PA

Para penggiat industri perminyakan di Indonesia maupun mancanegara baru mulai “bernafas lega” pada awal Juli 2016 dengan merangkak naiknya harga minyak mentah dunia, tapi akhirnya harus menelan “pil pahit” karena kenaikannya hanya bertahan selama hampir tiga pekan, dan merosot lagi menjelang pekan terakhir Juli 2016.

Sejak melorotnya harga minyak mentah dunia jenis Brent yang pada penutupan 20 Juli 2016 tercatat sebesar USD 47,17 per barel telah anjlok 2.10% menjadi USD 46.20 per barel pada penutupan 21 Juli 2016. Hal serupa juga terjadi pada minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) dari USD 44.94 per barel menjadi USD 44.75 per barel, turun 2.23%.

Brent dan WTI terus mengalami penurun hingga pada penutupan 25 Juli 2016 harga minyak mentah Brent berada di angka USD 44.72 per barel dan WTI tercatat USD 43.13 per barel.

Gambaran di atas jelas tidak “menggoyang” Indonesia terkait dengan harga minyak mentah Indonesia, karena dalam Rapat Kerja Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Rabu (13/7/2016) telah menetapkan Indonesian Crude Price (ICP) atau Harga Minyak Mentah Indonesia sebesar USD 40 hingga USD 55 per barel. Jadi, fluktiasi harga minyak mentah dunia akhir-akhir ini masih “aman” bagi Indonesia.

Sebagai contoh walaupun pada bulan Juni 2016 berdasarkan perhitungan Formula ICP mengalami penurunan dari US$ 44,68 per barel menjadi US$ 44,50 per barel atau turun US$ 0,18 per barel dari bulan Mei 2016. Namun harga itu masih berada dalam koridor angka hasil Rapat Kerja Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Rabu (13/7/2016)

Menara bor sumur migas

Kegiatan pemboran sumur migas di WKP Pertamina EP Asset 1 Pangkalansusu Field

Apakah bergejolaknya penurunan harga minyak mentah dunia akhir-akhir ini akan mempengaruhi kinerja PT Pertamina EP dalam upaya memburu dan meningkatkan produksi minyak mentah di dalam negeri ?

Jawaban yang telah disepakati oleh insan permigasan PT Pertamina EP sudah pasti, yaitu walaupun kondisi harga minyak mentah dunia sedang fluktuasi dan cenderung rendah, dan beberapa waktu lalu para pejabat energi kita mendesak perusahaan minyak memotong biaya, tetapi PT Pertamina EP tetap berkomitmen tinggi untuk terus mengenjot produksi.

Sementara yang berada di urutan kedua adalah Pertamina EP Asset 2 dengan capaian produksi minyak sebesar 19.662 BOPD, dan Asset 1 berada di urutan ketiga dengan produksi sebesar 16.192 BOPD, Asset 4 berada di urutan keempat dengan produksi sebesar 15.647 BOPD dan Asset 3 berada di urutan kelima dengan tingkat produksi sebesar 13.558 BOPD.

Bravo Pertamina EP khususnya Pertamina EP Asset 5 yang telah mampu menghasilkan produksi minyak rata-rata sebesar 23.491 BOPD (Barrels Oil Per Day/Barel Minyak Per Hari) pada tahun 2015 sehingga menempatkan Asset 5 berada di urutan pertama dari jumlah 5 Asset yang ada di jajaran PT Pertamina EP.

Total produksi minyak mentah PT Pertamina EP (own) pada tahun 2015 tercatat rata-rata sebesar 88.548 BOPD dan kalau dijumlahkan secara keseluruhan, yaitu PT Pertamina EP plus mitranya (TAC dan KSO) jadi sebesar 103.000 BOPD.

Pangkalansusu, 26 Juli 2016

2015 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Museum Louvre dikunjungi 8,5 juta orang setiap tahun. Blog ini telah dilihat sekitar 97.000 kali di 2015. Jika itu adalah pameran di Museum Louvre, dibutuhkan sekitar 4 hari bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Kisruh Hak Milik Lahan Antara PT KAI Dan PT Pertamina EP Pangkalansusu (update)

Inilah Jalan Simpang Tiga Sei Siur - Teluk Kerang yang dipersengketakan PT KAI dan PT Pertamina EP Pangkalansusu. Foto Fipa

Inilah Jalan Simpang Tiga Sei Siur – Teluk Kerang yang dipersengketakan PT KAI dan PT Pertamina EP Pangkalansusu. Foto Fipa

Oleh Freddy Ilhamsyah PA

Pendahaluan

Akhir-akhir ini muncul kabar di media massa mengenai “perseteruan” antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan PT Pertamina EP Pangkalansusu terkait “rebutan” atas hak milik jalan utama Simpang Tiga Sei Siur-Teluk Kerang menuju ke kawasan mega proyek PLTU di Desa Tanjungpasir, Kecamatan Pangkalansusu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara yang ada jalur pipa lifting 20 inci (dulu 30 inci) di sisi kiri badan jalan.

Perseteruan tersebut mulai mencuat ketika adanya wacana dari pihak PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk melaksanakan pengaspalan hotmix mulai dari kawasan mega projek PLTU Tanjungpasir sampai Simpang Tiga Sei Siur – Teluk Kerang, Pangkalansusu “diganjal” oleh pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang mengaku bahwa lahan jalan tersebut adalah milik mereka dengan cara memasang 2 plang (marka/rambu) dekat Simpang Tiga Sei Siur-Teluk Kerang (nomor ruas 000005 titik pengenal pangkal sebagai jalan negara).

Akibatnya, pihak PT PLN terpaksa menunda rencana pengaspalan hotmix di badan jalan yang dipersengketakan oleh PLN. Setahu mereka (PLN) jalan tersebut adalah milik PT Pertamina EP Pangkalansusu. Oleh sebab itu sejak awal rencana pembangunan Projek PLTU di Desa Tanjungpasir pihak PLN selalu berkoordinasi dengan Pertamina EP Pangkalansusu (selaku pemilik atas lahan jalan itu selebar 50 meter) terkait izin lintas dan renovasi jembatan lintas pipa penyalur minyak mentah berdiameter 30 inci (sekarang sudah diganti dengan pipa 20 inci, pen.) termasuk koordinasi dengan instansi terkait (Dinas Perhubungan Kabupaten Langkat).

Sebagai informasi dapat dijelaskan bahwa Pertamina membuat jalur pipa penyalur (transmisi) minyak mentah sepanjang sekitar 31.200 km dari Terminal Loading/PPP= Pusat Pengumpulan Produksi) sampai ke SBM (Single Bouy Mooring) yang berada di koordinat 4ᵒ13ˈ05 ̎Lintang Utara dan 98ᵒ24ˈ30 ̎Bujur Timur di perairan lepas pantai Teluk Aru, Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara dekat perairan Selat Malaka.

Kegiatan lifting/pengapalan minyak mentah di perairan lepas pantai Teluk Aru. Foto Fipa

Kegiatan lifting/pengapalan minyak mentah di perairan lepas pantai Teluk Aru. Foto Fipa

Dari SBM (sekarang sudah digantikan dengan SPM/Single Point Mooring pen.) selanjutnya minyak mentah itu dimuat ke kapal tanker untuk diangkut ke kilang BBM di Lawe-Lawe, Balikpapan Kalimantan Timur. Minyak mentah itu milik PT Pertamina EP Field Pangkalansusu dan PT Pertamina EP Field Rantau – Aceh Tamiang, termasuk crude oil milik JOB Pertamina – Costa serta condensate milik PT Maruta Bumi Prima.

Jalur pipa penyalur minyak mentah (crude oil) itu dibangun pada tahun 1969 di era Manajer Lapangannya dijabat oleh Ir. Soekadir (1965-1973) saat Pertamina masih bernama PN Permina (1961-1971) di era Bupati Langkat masih dijabat oleh T. Ismail Aswhin (1967-1974), dan untuk membangun jalur transmisi minyak mentah itu Pertamina telah membeli atau membebaskan lahan yang diakui sebagai milik masyarakat (sesuai bukti surat kepemilikan) yang terkena lintasan pipa 30 inci sesuai peraturan yang berlaku.

Muncul permasalahan dengan PLTU/PLN

Kehadiran proyek pembangunan Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) – 2, kapasitas terpasang 2 x 200 megawatt milik PLN di Desa Tanjungpasir, Kecamatan Pangkalansusu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara sejak medio 2008 pada prinsipnya didukung oleh semua pihak termasuk PT Pertamina EP Pangkalansusu. Sebab kehadiran PLTU-2 di Kecamatan Pangkalansusu diharapkan dapat meningkatkan gerak roda perekonomian di daerah itu.

Artinya, apabila proyek PLTU-2 dapat diselesaikan pembangunannya sesuai jadwal yang telah ditentunya, maka kemungkinan ada investor yang akan membangun pabrik dan sebagainya di wilayah Teluk Haru. Listrik tidak hidup-mati karena energi listrik yang tersedia sudah mencukupi untuk tujuan dimaksud. Itulah impian dan harapan para pengusaha dan warga masyarakat di wilayah Teluk Haru (Kecamatan Pangkalan Susu, Brandan Barat, Sei Lepan, Babalan, Gebang, Besitang dan Kecamatan Pematang Jaya).

Namun dalam pelaksanaan proyek pembangunan PLTU-2 yang dilakukan oleh konsorsium/kontraktor PT Nincec Multi Dimensi telah mengusik keselamatan dan keamanan jalur pipa lifting crude oil (minyak mentah) utama dari Aceh dan Sumatera Utara yang berdiameter 30 inci karena sebagian badan pipa tersebut sudah ditimbun oleh pihak Nincec dengan tanah timbun untuk pelebaran badan jalan hingga berem (tepi badan jalan).

Tertimbunnya pipa loading 30 inci dipastikan dapat mempercepat pipa itu dimakan karat (corrde) karena pipa tersebut tidak dirancang untuk under ground line. Sehingga badan pipa tersebut tidak dilapis seperti pada pipa yang memang dirancang untuk pemakaian di dalam tanah.

Pelebaran badan jalan hingga “memakan” berem mungkin dimaksudkan oleh pihak PLN agar mobilisasi dump truck interkuler dan kendaraan angkutan berat proyek PLTU lainnya dapat berselisih secara leluasa. Namun sayangnya pihak pelaksana proyek lupa memikirkan kemungkinan kedudukan pipa berdiameter 30 inci itu akan tergeser oleh desakan tanah yang setiap hari dilintasi oleh ratusan dump truck berbagai ukuran tonasenya.

Namun sangat disesalkan oleh pihak Pertamina, dump truck bertonase besar (interkuler) yang mengangkut tanah timbun berlalulalang pas di pinggir pipa transmisi berdiameter 30 inci bahkan ada beberapa dump truck yang melindas punggung pipa.

Untuk menghindarkan hal yang tidak diinginkan, jauh sebelumnya Pertamina EP Pangkalansusu sudah minta kepada pihak PLTU/PLN untuk membuat pembatas jalan jarak 5 meter dari sisi pipa dan membuat rest area setiap 100 meter agar lalulalang kendaraan milik proyek tidak terhambat operasionalnya.

Pada awalnya, niat baik Pertamina ditanggapi positif oleh pihak PLN melalui surat nomor 045/121/PLJ1/2008 tanggal 16 Juli 2008 yang ditujukan kepada PT Pertamina EP Region Sumatera dan pihaknya berjanji akan membuat rest area setiap 100 meter, tapi hal tersebut tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Angkutan berat berbobot ratusan ton yang dilarang melintas dekat jalur pipa 30 inci. Foto Fipa

Angkutan berat berbobot ratusan ton yang dilarang melintas dekat jalur pipa 30 inci. Foto Fipa

Tindakan yang dilakukan oleh pihak PT Pertamina EP Pangkalansusu seperti tersebut di atas adalah bertujuan untuk mengamankan keselamatan jalur pipa minyak berukuran 30 inci, sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Menteri Pertambangan dan Energi telah menerbitkan SK Mentamben No. 300.K/38/M.PE/1997 tentang Keselamatan Kerja Pipa Penyalur Minyak dan Gas Bumi, yang dalam tabel Lampiran II ada tertera bahwa untuk keamanan pipa berdiameter 30 inci ditentukan harus berjarak minimum 5 meter dari badan pipa (tekanan antara 16 s.d 50 BAR). Sedangkan yang bertekanan antara 50 s.d 100 BAR jarak amannya adalah 6 meter dari sisi luar badan pipa.

Hal itu disampaikan oleh pihak Pertamina mengingat bahwa keberadaan pipa transmisi crude oil berdiameter 30 inci yang berada di tepi badan jalan mulai dari Simpang Sei Siur sampai ke Teluk Kerang kondisi sebagian besar pipa tersebut sudah tua (anno 1969), dan pipa tersebut masih digunakan untuk pengiriman <em>crude oil</em> melalui SBM di perairan lepas pantai Teluk Aru, Pangkalansusu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

Kenapa Pertamina bersikeras untuk menghentikan operasional angkutan berat milik proyek PLTU/PLN ketika kegiatan lifting/pengapalan minyak mentah sedang berlangsung selama 3 hari? Permasalahannya apabila pipa 30 inci berisi minyak mentah yang sedang dipompa oleh dua unit mesin pompa Kubota, centrifugal pump type MVDM, head 226 meter, kapasitas 16,7 m3/menit, Rpm 1000 r/menit, P.S 1000 Sg 0,78 yang dioperasi secara bersamaan dengan kapasitas pemompaan ± 1300 KL/jam hingga 1600 KL/jam (untuk 2 pompa) sampai pecah karena digilas angkutan berat berkapasitas besar, apa yang terjadi ? Pasti ribuan barel minyak mentah itu berhamburan liar keluar sesuka hatinya.

Marka/rambu-rambu mengenai keberadaan pipa 30 inci. Foto Fipa

Marka/rambu-rambu mengenai keberadaan pipa 30 inci. Foto Fipa

Itulah sebabnya pihak Pertamina EP Pangkalansusu membuat papan pengumuman (marka/rambu) yang isinya antara lain adalah: “Awas pipa minyak dan gas bertekanan tinggi. “ Hal itu dilakukan Pertamina sesuai dengan SK Mentamben No. 300.K/38/M.PE/1997 tentang Keselamatan Kerja Pipa Penyalur Minyak dan Gas Bumi Pasal 24 ayat (4) : Marka atau rambu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa tulisan yang jelas dalam hurup capital dan berbunyi “DILARANG,PERINGATAN, AWAS, BERBAHAYA, LINTASAN SAALURAN PIPA GAS” dan memuat nama perusahaan dengan alamat dan nomor telepon, diletakkan pada ketinggian yang cukup dan mudah dilihat.

Kalau sudah demikian kejadiannya, kerugian besar sudah terbayang di pelupuk mata. Misalnya bencana tersebut terjadi pada Juli 2008 pasti Pertamina mengalami kehilangan ratusan barel minyak mentah, katakanlah 500 barel yang ketika itu harga minyak mentah Indonesia jenis NSC/Katapa/Arbei (hasil produksi Pertamina Rantau-Aceh, Pertamina Pangkalansusu-Sumut dan JOB Pertamina-Costa) adalah USD 139,56/barel x 500 barel = USD 69.780,00 Belum lagi kerugian biaya operasional 2 Tugboat dan 1 LC yang berada di atas angka Rp875 juta dan biaya operasional lainnya, dan juga biaya ganti kerugian lahan masyarakat yang tercemar tumpahan minyak mentah.

Permasalahan lainnya, jangankan untuk memperbaiki kerusakan pipa yang pecah, untuk membersihan tumpahan minyak mentah itu saja bisa memakan waktu berhari-hari. Selain itu, kerugian yang maha besar juga membayangi Pertamina EP Pangkalansusu, Pertamina EP Rantau dan JOB Pertamina-Costa. Kenapa ? Karena sumur minyak mereka pasti ditutup. Sebab semua tanki penimbun minyak mentah (crude oil) sudah penuh. Sebab kalau minyak mentah sudah siap dikirim, pasti tanki-tanki penimbun di Pangkalansusu sebagian besar sudah sarat muatan. Nah, minyak mentah yang terus-menerus keluar dari sumur mau ditampung di mana ? Jalan keluar satu-satunya ialah sumur-sumur minyak milik ketiga perusahaan itu ditutup, dan kalau sudah ditutup belum tentu minyaknya akan keluar lagi. Itulah dilemanya.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, saat Pertamina EP Pangkalansusu sedang melaksanakan kegiatan penyaluran minyak mentah melalui pipa berdiameter 30 inci untuk dimuat ke kapal tanker di perairan lepas pantai Teluk Aru, maka seluruh kendaraan proyek bertonase besar dilarang melintas dekat areal pipa 30 inci sejak dimulainya pengapalan sampai selesai selama 3 hari.

Menghadapi kenyataan itu tentu pihak pelaksana proyek PLTU (PT Nincec Multi Dimensi) jadi merasa “terusik” karena jadwal kerja (time schedule) jadi terganggu (kehilangan 3 hari kerja). Padahal kalau pihak pelaksana proyek maupun pihak PLN mematuhi isi suratnya bernomor 045/121/PLJ1/2008 tanggal 16 Juli 2008 yang ditujukan kepada PT Pertamina EP Region Sumatera dengan berjanji akan membuat rest area setiap 100 meter, pasti penghentian kegiatan operasional angkutan beratnya tidak terjadi.

Seperti diketahui bahwa minyak mentah yang dikirim ke Lawe-lawe Kalimantan Timur adalah milik PT Pertamina EP Field Pangkalansusu dan PT Pertamina EP Field Rantau – Aceh Tamiang, termasuk <em>crude oil</em> milik JOB Pertamina-Costa serta condensate milik PT Maruta Bumi Prima.

Patok beton pembatas jalan yang tidak boleh dilalui kendaraan bermuatan berat. Foto Fipa

Patok beton pembatas jalan yang tidak boleh dilalui kendaraan bermuatan berat. Foto Fipa

Akhirnya pihak PLTU/PLN menyadari dampak yang timbul apabila pipa 30 inci sampai pecah, dan kemudian mereka membuat pembatas jalan berjarak 5 meter dari sisi luar badan pipa. Persoalan dengan PLN dapat dikatakan sudah selesai. Namun persoalan baru muncul antara pihak Pertamina dengan pihak PT KAI yang mengklaim bahwa tanah yang dibuat jalan dan jalur pipa 30 inci adalah milik PT KAI, warisan dari para pendahulunya.

Kisruh Hak Milik Lahan Pertamina Dengan PT KAI

Ketika mencuat adanya wacana pelaksanaan pengaspalan hotmix mulai dari Simpang Tiga Sei Siur, jalan masuk utama menuju ke projek PLTU, sampai ke depan kawasan mega projek di Desa Tanjungpasir oleh pihat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) kemudian muncul gugatan dari pihak PT KAI (Kereta Api Indonesia) yang mengaku bahwa lahan jalan tersebut adalah milik PT KAI.

Jalan Simpang Tiga Sei Siur - Teluk Kerang yang diakui sebagai milik PT KAI. Foto Fipa.

Jalan Simpang Tiga Sei Siur – Teluk Kerang yang diakui sebagai milik PT KAI. Foto Fipa.

Bila menelusuri jejak sejarah Kereta Api sejak jaman penjajahan Belanda, perintis jalur jalan kereta api di Indonesia khusus di Sumatera Utara yang membangun adalah perusahaan kereta api DSM (Deli Spoorweg Maatschappij) pada tahun 1886 dan J.T. Cremer, Manajer Deli Maatschappij selaku penginisiatif pengembangan jalur kereta api di Tanah Deli. Ia menyarankan agar pembangunan jalur kereta api dibuat sesegera mungkin untuk memperlancar perdagangan ekspor di lingkungan perkebunan Deli, serta mengembangkan jalan yang menghubungkan Medan-Berastagi. Selain itu, dilatarbelakangi pula dengan berlakunya Undang-Undang Agraria 1870 yang mengizinkan penguasa kolonial Belanda menyewa tanah dalam jangka waktu yang lama dan tidak hanya diprioritaskan pada sektor perkebunan. Adanya Belawan sebagai pelabuhan ekspor komoditas ke Eropa juga turut andil dalam percepatan pembangunan jaringan jalur kereta api di Sumatera Utara dan Timur. Karena pihak pengusaha menilai angkutan sungai cukup lambat dalam untuk kegiatan ekspor-impor.

Sementara menurut Tuanku Luckman Sinar SH dalam tulisan berjudul “Kereta Api DSM &amp; Tanah Konsesi” di Waspadamedan.com pada Selasa, 01 Juni 2010 menulis, pada tanggal 9-2-1897 DSM memohon izin kepada Gubernur Jendral dan tanah konsesi dari kerajaan untuk membuka lijn : Perbaungan – Rampah – Bamban – Rantau Laban – Tebingtinggi; Lubuk Pakam – Bangun Purba; Selesai – Tanjung Pura – Pangkalan Berandan – Pangkalan Susu – Kuala Simpang (Temiang). (₁)

Untuk mengatasi persaingan, maka pada tahun 1925, dibuat kesepakatan sebagai berikut : DSM mengangkut setengah jumlah berat bruto barang disepanjang lini yang ada ke arah Belawan; KPM hanya akan mengangkut barang trayek Langsa – Air Putih – Berandan – Pangkalan Susu – Tanjung Pura – Belawan – dan Batubara (Tg. Tiram) – Teluk Nibung – Belawan; KPM tidak ikut ambil bagian transportasi sungai Asahan dari Teluk Nibung ke Tanjung Balai arah ke hulu. (₁)

Pada Tanggal 21 Juli 1947 Belanda mengadakan Aksi Agresi-1 ke wilayah luar Medan sampai batas Sungai Asahan dan Danau Toba serta Sungai Batang Serangan. Maka sejak itu DSM kembali beroperasi. Ketika Belanda kembali melakukan Agresi-II Desember 1948, maka DSM sudah beroperasi ke Rantau Perapat. Tetapi ketika terbit konfrontasi RI dengan Belanda soal Irian Barat (TRIKORA) maka harta perusahaan Belanda diambil alih oleh RI. Perusahaan DSM diambil alih oleh T.T.–I Bukit Barisan (Penguasa Perang) 1957 dan pimpinan DSM di Medan diusir pada tanggal 10-2-1958. (₁)

Pada alinea lain Luckman Sinar, SH menjelaskan mengenai hubungan DSM dengan status konsesi tanah. “Tanah Konsesi” (Concessie-Consession=Grant/Charter/Licence) bukan “Erfpacht” (Hak Guna Usaha), bukan “Opstal” (Hak Guna Bangunan), atau “eigendom” atau “Vruchtgebruik” dan lain-lain. Dan tidak ada dalam kamus undang-undang kita karena istilah hanya dipakai mengenai tanah di wilayah Kerajaan di Sumatera Timur (bukan wilayah Langsung Gubernemen). (₁)

Tanah “konsesi” diserahkan kepada Perusahaan asing oleh Kerajaan, yang bertindak atas nama Masyarakat Hukum Adatnya dimana Institusi Kerajaan/Kesultanan itu merupakan kesatuan yang berhak atas Tanah Adat Ulayat itu. Tanah “Konsesi” yang dikelola oleh bekas Perkebunan asing dan DSM itu bukan kepunyaan Perusahaan Asing itu, tetapi kepunyaan rakyat asli/Masyarakat Hukum Adat bangsa Indonesia. (₁)

Luckman juga menjelaskan,” Dalam tahun 1917 disetujui oleh Gubernur Jendral masa berlakunya Konsesi DSM ialah 90 tahun dikira mulai tahun 1912. Jadi di tahun 2002 Konsesi tanah rel kereta api DSM itu sudah berakhir dan tanah yang dipakai berdasarkan konsesi itu harus dipulangkan oleh DSM kepada Kerajaan. Menurut teorinya terserahlah dengan perundingan apakah dibuat Perjanjian Baru memperpanjang konsesi tersebut, atau tanah dikembalikan kepada Kerajaan (tanah ulayat).” (₁)

Kalau memang apa yang diungkapkan oleh Tuanku Luckman Sinar SH seperti tersebut di atas adalah benar, maka timbul pertanyaan: Setelah batas konsesi tanah rel kereta api pada tahun 2002, apakah pihak PNKA ada memiliki surat dari T.T.–I Bukit Barisan (Penguasa Perang) 1957 selaku pihak yang mengambil-alih perusahaan DSM atau dari Pemerintah RI selaku pengambil alih harta perusahaan Belanda ? Kalau ada dan sebagai perusahaan perkeretaapian terbesar di Asean, seharusnya tertib administrasi khususnya soal data aset yang dikuasainya juga harus tercatat dengan baik dan benar.

Soalnya proses perjalanan perkeretapian di bumi Nusantara cukup panjang. Sepanjang jalan kereta api di Indonesia sejak adanya Staat Spoorwegen (SS) Verenigde Spoorwegenbedrifj (VS) Deli Spoorwegen Maatschappij (DSM) di era prakemerdekaan Republik Indonesia (1864-1945) yang kemudian setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, maka muncul/lahirlah Djawatan Kereta Api (DKA) yang kemudian beberapa kali mengganti nama yaitu Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA, Perjanka), Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka), kemudian PT Kereta Api (Persero) sampai akhirnya muncul nama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) yang dibentuk melalui Akte Notaris Imas Fatimah pada Mei 2010 (Instruksi Direksi No. 16/OT.203/KA 2010), Khusus untuk wilayah Sumatera Utara dan Aceh dikelola oleh PT KAI Divisi Regional I Sumatera Utara dan Aceh.

Sementara terkait dengan pemanfaatan dan pengawasan jalur kereta api untuk jalan rel bila mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2009 tentang Perkeretaapian Pasal 58 ayat (3) secara jelas ada disebutkan: Batas ruang milik jalur kereta api untuk jalan rel yang terletak di atas permukaan tanah diukur dari batas paling luar sisi kiri dan kanan ruang manfaat jalur kereta api, yang lebarnya paling sedikit 6 (enam) meter. Dan di Pasal 61 ayat (2) disebutkan: Batas ruang pengawasan jalur kereta api untuk jalan rel yang terletak pada permukaan tanah diukur dari batas paling luar sisi kiri dan kanan ruang milik jalur kereta api, masing-masing selebar 9 (sembilan) meter.

Kalau dilihat dari data di atas patut diduga keras bahwa lahan badan jalan yang ada jalur pipa penyalur minyak mentah berukuran 20 inci (dulu 30 inci) milik Pertamina ke SPM (dulu SBM) adalah lahan hak milik PT KAI warisan DSM dan atau PNKA.

Akan tetapi yang jadi pertanyaan, apakah memang benar bahwa dulu di atas badan jalan mulai dari Simpang Tiga Sei Siur – Teluk Kerang ada jalur kereta api yang dikuasai oleh DSM ataupun PNKA yang mengaku sebagai pemilik atas lahan itu yang kini diwariskan kepada PT KAI ?

Kalau jawabannya ADA, maka kenapa Pemerintah Kabupaten Langkat yang ketika itu dijabat oleh T. Ismail Aswhin (1967-1974) berani merestui pembebasan lahan milik PNKA untuk dijadikan jalur pipa berdiameter 30 inci ? Dan, apakah pembebasan lahan tersebut juga melibatkan Gubernur Sumatera Utara yang ketika itu dijabat oleh Marah Halim (31 Maret 1967-12 Juni 1978) ?

Persoalannya, proses survei lapangan dan gantirugi ketika itu ada melibatkan Tim 9 yang beranggotakan berbagai pihak terkait termasuk dari lingkungan Pemerintahan Kabupaten Langkat. Atas dasar itu, maka Pertamina melaksanakan pembayaran atas lahan/tanah. Persoalanpun selesai untuk kemudian dilanjutkan dengan menggelar pipa penyalur (loading pipe) minyak mentah berdiameter 30 inci di atas lahan yang sudah dibayar oleh pihak Pertamina.

Pertanyaan lainpun mucul setelah melihat pengumuman di 2 plang yang dibuat oleh pihak PT KAI lengkap dengan segala atributnya di tepi kiri kanan Simpang Tiga Sei Siur – Teluk Kerang di situ ditulis “Tanah Milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) Nomor Aset …….. Dilarang mendirikan bangunan tanpa seizin PT Kerata Api Indonesia (Persero) Melanggar KUHP Pasal 167 Jo Pasal 389 dan UUD No.23/2007 Pasal 13.” Kenapa Nomor Aset nya tidak dicantumkan ? Persoalan jadi remang-remang dan menimbulkan kesan pihak PT KAI tidak transparan dalam menyampaikan informasi yang patut diketahui oleh publik. Misalnya ukuran lebar lahan/tanah jalur rel dan ukuran lahan tanah. Kalau memang tidak punya data nomor aset, sebaiknya jangan ditampilkan dalam plang itu. (lihat foto terlampir).

Penutup dan Solusi

Terpulang siapa pemilik yang sah atas lahan tersebut, tapi yang jelas “kemelut” antara kedua perusahaan plat merah itu yang masing-masing pihak mengaku sebagai pemilik yang sah atas lahan tanah tempat jalur pipa penyalur minyak mentah milik Pertamina mulai Simpang Tiga Sei Siur sampai batas gugatan, seharusnya tidak terjadi apabila tidak ada surat hak milik yang tumpang tindih. PT KAI mengaku bahwa lahan tersebut adalah aset miliknya sesuai bukti surat kepemilikkan (eks konsensi DSM ?) yang ada di pihak PT KAI. Sedang pihak Pertamina juga mengaku sebagai pemilik yang sah atas lahan yang sudah mereka beli dari masyarakat setempat sesuai bukti surat pelepasan hak atas tanah tersebut oleh masyarakat.

Kalau kita mau jujur berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, biasanya pemegang surat bukti kepemilikkan yang usianya lebih tua (tahun rendah) adalah sebagai pemilik yang sah ketimbang surat bukti kepemilikkan yang berusia jauh lebih muda. Dan apabila memang benar bahwa untuk satu lahan ada dua surat bukti kepemilikkan, maka yang berusia muda sudah dapat dan patut diduga ada penyimpangan prosedur walaupun telah melibatkan Tim 9 saat proses pembebasan lahan. Lahan milik PNKA koq diakui sebagai lahan milik masyarakat terkait. Ini bisa dikriminalisasikan sebagai “penipuan” atau “pemalsuan” surat atas hak milik orang lain yang diakui sebagai miliknya. Kemudian muncul pertanyaan: “Apakah kepala desa, camat dan Tim 9 terlibat dalam kasus tersebut? Kalau tidak, jadi siapa yang bermain dan siapa pula yang dipermainkan?”

Sekarang terpulang kepada pihak PT KAI apakah kasus ini akan dilanjutkan ke rana hukum mengenai “surat tanah aspal (?)” atau melalui proses penyelesaian mengenai Hak Milik di Badan Pertanahan Nasional, dan atau penyelesaian secara adat ke timuran dengan PT Pertamina EP melalui “<em>win win solution.</em>” Dengan pengertian hak atas lahan tersebut tetap menjadi milik PT KAI (tentu Pertamina merasa sebagai pihak yang dirugikan. Lahan tanah sudah dibebaskan, tapi hak kepemilikkannya gugur), tapi pihak PT KAI tidak boleh mempersoalkan keberadaan jalur pipa 20 inci (dulu 30 inci).

Muncul lagi pertanyaan: Berapakah luas lahan rel kereta api yang diakui sebagai lahan tanah milik PT KAI di jalan Simpang Tiga Sei Siur-Teluk Kerang ? Kalau Pertamina sudah jelas bahwa lahan yang dikuasainya mulai titik sisi kanan kiri pipa 30 inci (sekarang sudah diganti dengan pipa berdiameter 20 inci) adalah adalah 50 meter (25 meter di sisi kanan dan 25 meter sisi kiri sebagai batas Right of Way (bebas hambatan).

Sementara menurut hasil pengukuran penulis di jalur rel kereta api lintas Pangalansusu – Besitang yang berbentuk tanggul adalah selebar 4 meter. Di situ sudah tidak ada lagi rel kereta api karena sudah dijadikan jalan umum beraspal hotmix.

Alasan penulis, toh keberadaan lahan yang ada jalur pipa penyaluran minyak mentah itu tidak dipakai lagi untuk lintasan kereta api atau tidak masuk dalam daftar rencana Pembangunan Kereta Api Antar Kota/Trans Sumatera ataupun program Reaktifasi (menghidupkan/mengaktifkan kembali) Jalur Kereta Api yang selama ini tidak aktif di Langkat, Sumatera Utara.

Kalaupun masuk dalam rencana Reaktifasi, maka sudah ada ketentuan dan aturan yang mengaturnya yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perkeretaapan Pasal 59 ayat (1) menyebutkan : Ruang milik jalur kereta api dapat digunakan untuk keperluan lain atas izin pemilik prasarana perkeretaapian dengan ketentuan tidak membahayakan konstruksi jalan rel, fasilitas operasi kereta api, dan perjalanan kereta api. Sedangkan dalam pasal yang sama ayat (2) disebutkan : Keperluan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: ….. diantaranya butir a. Pipa gas dan b. Pipa minyak.

Kini masyarakat menunggu akhir ceritanya bagaimana. Yang perlu diingatkan bahwa Damai Itu Indah.

Pangkalansusu, 25 November 2015

Note:
Penulis adalah anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat Kecamatan Pangkalansusu bidang Penanganan dan Penangkal Isu; mantan wartawan Harian Bukit Barisan unit Departemen Perhubungan; unit Departemen Pertambang dan Energi, dan unit Departemen Pekerjaan Umum dan juga pernah menjabat sebagai staf Humas Pertamina EP Pangkalansusu bidang Media/Pers.

Sumber data perkeretaapian :
https://id.wikipedia.org/wiki/Divisi_Regional_I_Sumatera_Utara_dan_Aceh
https://kereta-api.co.id/
(₁)http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=1326:kereta-api-dsm-a-tanah-konsesi-i-&amp;catid=59:opini&amp;Itemid=215

Sekilas Tentang Proses Pengolahan Aspal

Kilang Asphalt Pangkalansusu tinggal kenangan. Foto Freddy Ilhamsyah PA

Kilang Asphalt Pangkalansusu tinggal kenangan. Foto Freddy Ilhamsyah PA

Oleh: Freddy Ilhamsyah PA

Bagi masyarakat awam tentu sudah tidak asing lagi dengan benda kenyal berwarna hitam pekat yang dikenal dengan sebutan Aspal (Asphalt) karena dapat dikatakan setiap hari kita berlalu-lalang di atas jalan raya yang terbuat dari bahan campuran batu, pasir dan aspal, tapi penulis yakin bahwa masih banyak diantara kita yang belum mengetahui seluk-beluk mengenai proses pengilangan dan bahan bakunya apa serta penggunaannya untuk jalan itu bagaimana dan sebagainya.

Oleh sebab itu pada kesempatan ini penulis coba menyampaikan kepada publik mengenai proses pengolahan aspal dari bahan baku hingga menjadi aspal siap pakai dengan harapan dapat melengkapi perbendaharaan/pengetahuan kita masing-masing.

Kontribusi kilang aspal Pangkalansusu untuk pengasapalan jalan di Sumut dan Aceh tinggal kenangan. Foto Freddy Ilhamsyah PA

Kontribusi kilang aspal Pangkalansusu untuk pengasapalan jalan di Sumut dan Aceh tinggal kenangan. Foto Freddy Ilhamsyah PA


Bahan Baku Aspal

Bahan baku Aspal Bitumen dan bitumen itu sendiri sebenarnya hanya istilah yang sering dipergunakan oleh para geolog karena bitumen pada dasarnya adalah merupakan campuran minyak mentah berat dengan hydrocarbon sebab kedua jenis benda itu adalah satu senyawa, mengandung pasir halus (14-15 derajat API) dan mempunyai konsisten cairan “kopi” atau merupakan semacam batubara yang menurut para ahli bahwa bitumen itu dapat ditambang dengan metoda “in-site thermal methode.”

Bitumen yang telah diangkat kepermukaan bumi lalu dipisahkan dari air, pasir halus dan mineral lainnya yang selain dapat digunakan sebagai bahan baku aspal juga dapat diolah menjadi minyak mentah sintetis yang berkadar tinggi yang dapat diolah dengan metoda kilang konvensional.

Disia-siakan oleh Pertamina. Foto Freddy Ilhamsyah PA

Disia-siakan oleh Pertamina. Foto Freddy Ilhamsyah PA


Kilang Aspal Pangkalansusu

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas lagi tentang proses pengolahan/pengilangan aspal, maka penulis memfokuskan ke Kilang Asphalt Pertamina di Pangkalansusu untuk melakukan survei dan pengamatan langsung di kilang tersebut.

Pada kesempatan itu penulis juga telah mewancarai Kepala Kilang Asphalt (Asphalt Plant) Pertamina Pangkalansusu yang ketika itu dijabat oleh Ismail Syah, BcP. Menurut Ismail, kegiatan Kilang Asphalt Pangkalansusu baru dimulai pengoperasiannya setelah dilakukan perubahan instalasi (modifikasi) pada tahun 1966. Kapasitas terpasang Kilang Aspal adalah 150 ton/hari dan kapasitas aktual 110 ton/hari.

Baktimu untuk negeri tak dikenang. Foto Freddy Ilhamsyah PA

Baktimu untuk negeri tak dikenang. Foto Freddy Ilhamsyah PA


Sebelumnya, masih menurut Ismail, kilang ini pada tahun 1952 hingga 1965 digunakan untuk penyulingan minyak mentah menjadi BBM.

Pada awal pengilangan aspal di Lapangan Produksi Pertamina Pangkalansusu bahan bakunya didatangkan dari luar negeri, yaitu dari Shell Bukon Refinery Singapura. Tetapi sejak kilang di Cilacap beroperasi, maka dengan sendirinya bahan baku tersebut didatangkan dari Cilacap dengan mempergunakan kapal tanker yang kemudian dipompakan dan ditampung ke tanki timbun di terminal Pangkalansusu.

Bitumen (BFS/Bitumen Feed Stock) yang ada di tanki timbun kemudian dialirkan ke Kilang Aspal dan untuk seterusnya dipompakan ke Heater (tempat pemanasan) agar muda disalurkan atau dimasukkan ke Still (semacam bejana).

Kacang lupa kulit. Foto Freddy Ilhamsyah PA

Kacang lupa kulit. Foto Freddy Ilhamsyah PA


Di dalam Heater, bitumen itu dipanaskan dengan sistem pembakaran dengan gas yang diperoleh dari sumur gas yang terdapat di Kecamatan Pangkalansusu dengan temperatur berkisar antara 400 hingga 450 derajat Farrenheit untuk membuat/mengilangkan kadar air dan elemen lainnya yang redapat dalam persenyawaan bitumen. Sebab apabila kadar tersebut tidak dibuang atau dibersihkan, maka mutu aspal yang dihasilnya jadi rendah.

Setelah mencapai suhu 400 hingga 450 derajat Farrenheit, maka bitumen yang mencair itu kemudian diproses melalui sistem peranginan (blowing) yaitu dengan cara memasukkan udara (angin) melalui blower (emacam kipas angin besar) ke dalam tabung bejana (still) bersamaan dengan “disuntikkannya” uap air (steam). Proses ini berlangsung selama sekitar 5 sampai 7 jam.

Empat jam setelah “diangin-anginkan”, maka diambil contoh (sample) dari dalam Still untuk diperiksa di dalam laboratorium guna diketahui diketahui daya rekatnya dan penetrasi aspal (kekenyalan/kekerasan aspal – kalau tanah misalnya CBR nya) apa sudah memenuhi syarat atau belum.

Selama blowing berlangsung, ungkap Ismail, terjadilah proses oksidasi di dalam Still sehingga tercipta gas gas SO₂, H₂S dan CO₂. Semetara uap Solar nya dialirkan melalui pipa ke column (semacam bak) untuk didinginkan. Sistem pendingan di sini dilakukan dengan air. Sedangkan solar bercampur air pendingin ditampung di sebuah bak pemisah, dimana air dikumpulkan dalam bak penampungan, dan solar ditampung di tanki terpisah. Sementara gas yang tidak “sempat” terkondensir (tersaring) dimasukkan ke Scrubber untuk diproses lebih lanjut. Sedangkan gar yang ringan (eks crubber) dibuang atau dibakar melalui cerobong pembakar (flare) demi untuk menghindari terjadinya pencemaran (polusi) udara di sekitar di sekitaran kawasan kilang.

Walaupun sudah puluhan tahun tidak beroperasi, aspal masih menetes. Foto Freddy Ilhamsyah PA

Walaupun sudah puluhan tahun tidak beroperasi, aspal masih menetes. Foto Freddy Ilhamsyah PA


Sementara aspal yang dihasilkan oleh Still kemudian dipompakan ke dalam tanki penampungan aspal, tapi sebelumnya harus didinginkan dulu melalui double pipe cooler atau box cooler. Setelah itu baru diperiksa kembali di laboratorium secara lebih cermat lagi oleh para tenaga ahli Pertamina (bangsa Indonesia). Apabila mutu dan persyaratan aspal sudah terpenuhi, maka aspal tersebut diisikan ke dalam drum aspal yang bahan bakunya dibuat di dalam negeri, yaitu Pabrik Drum Aspal Pertamina di Wonosobo. Sedangkan pengassemblingannya dilakukan di Kilang Asphalt Pertamina Pangkalansusu.

Lebih lanjut Ismail menjelaskan kepada penulis, aspal hasil produksi Kilang Asphalt Pangkalansusu sebagian besar disalurkan ke Bina Marga Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Aceh. Disamping itu juga untuk memenuhi kebutuhan atau pemakaian Pertamina sendiri juga diketahui bahwa Pertamina ada melaksanakan pengaspalan jalan-jalan di lokasi Pertamina (perumahan dsbnya) juga ketika itu ada melakukan pengaspalan hotmix jalan-jalan umum seperti Kota Pangkalan Brandan, Kota Pangkalansusu, Kota Kuala Simpang dan komplek Pertamina Rantau.

Sedangkan jenis aspal hasil produksi Kilang Asphalt Pangkalansusu ialah Aspal jenis Pen 60/70 dan Pen 80/100 yang saat itu sangat dibutuhkan dengan berbagai macam sistem yang akan penulis jelaskan di bawah ini.

Cara pemakaian aspal untuk jalan

Selain aspla yang sudah kita kenal, masih banyak nama dan jenis aspal yang digunakan untuk bahan campuran pengaspalan jalan termasuk landasan pacu lapangan terbang, yaitu Straight Asphalt, Asphalt Cement dan Pavement Asphalt.

Aspal tersebut memiliki berbagai bentuk mulai dari semi padat sampai padat, tergantung dari tipe dan tingkatannya. Tetapi yang dari berbagai bentuk itu, namun cara pemanfaatan/pemakaiannya tetap melalui tiga sistem utara, yaitu : 1. Pemanasan dengan pembakaran kayu dllnya. 2. Pencairan dengan melarutkan di dalam minyak. 3. Pencairan yang dilarutkan di dalam air.

Sedangkan cara pemakain untuk jalan, yaitu mencapurkan aspal (menurut ukuran yang dikehendaki), batu kerikil atau batu pecah (split berbagai ukuran sesuai kebutuhannya) dan pasir. Sementara sistem pengolahannya ada yang memakai cara cold-mix (premix), hotmix (hasil olahan unit Asphalt Mixing Plant) atau memakai sistem biasa (sosot berat/coating).

Semak belukar dan ilalang menghiasi halamanmu. Foto Freddy Ilhamsyah PA

Semak belukar dan ilalang menghiasi halamanmu. Foto Freddy Ilhamsyah PA


Menurut pengalaman penulis sewaktu menjadi supervisor di PT Jazacon beralamat di jalan H.Agus Salim, Jakarta perusahaan kontraktor yang bergerak di bidang pengaspalan jalan dan Lapangan Terbang, pembakaran aspal yang terbaik adalah berkisar antara 170-180 derajat celcius atau dengan batas pembakaran satu drum aspal tidak boleh melebihi 5 jam. Apabila hal ini tidak terpenuhi, maka akan terjadi kerusakan atau hangus pada lapisan bawah aspal ssehingga daya rekat aspal jadi berkurang bahkan kehangusan struktur kimiawi aspal sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Pengalaman penulis kian bertambah saat dipercayakan oleh pimpinan untuk mengawasi dan melaksanakan perpanjangan landasan pacu (runway) Lapangan Terbang Polonia Medan dari 2.500 meter menjadi 3.000 meter sekaligus pengaspalan hotmix, dan penambahan Taxi way sejak tahun 1970 hingga 1973.

Pekerjaan memanjangkan landasan pacu dan mempertebal lapisan hotmix tersebut dimaksudkan untuk keperluan kedatangan pesawat berbadan lebar Boeing KLM (terbang perdana) untuk mengangkut Jamaah Haji ketika itu. Semula penulis dan rekan2 termasuk direksi perusahaan dan pejabat dari Perhubungan Udara deg deg plas saat di atas ujung landasan tampak pesawat KLM yang siap mendarat, namun alhamdulillah….. akhirnya pesawat KLM berhasil mendarat dengan mulus. Kami semua saling bersalaman. Sampai disini penulis akhiri tulisan ini. Semoga ada manfaatnya. ***
Pangkalansusu, 10 Oktober 1980

NB.
Tulisan ini sudah dimuat di majalah Warta Pertamina edisi No.12 tahun ke XVI (1980) di halaman 24-25 dan Harian Bukit Barisan.

Info tambahan:
Sayangnya, saat ini (2015) Kilang Aphalt Pertamina yang ada di Pangkalansusu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara sudah jadi rongsokan besi tua karena disia-siakan oleh pihak Pertamina. Aset Negara banyak yang terlantar di Wilayah Teluk Haru khususnya di Pangkalan Brandan, tempat cikal bakal lahir Pertamina dari rongsokan bekas bumi hangus hingga menjadi Pertamina yang Anda kenal saat ini. Dulu Pangkalan Brandan adalah markas/kantor besar Pertamina Daerah Sumatera bagian Utara yang wilayahnya mulai dari Aceh sampai ke Natuna, Riau. Begitulah kalau Kacang sudah lupa dengan kulitnya.

BADAI DAN TOPAN SIAP MENUJU DARATAN TIONGKOK (?)

Badai dan Topan siap menuju ke Daratan Tiongkok. Foto Google Earth/THNews

Badai dan Topan siap menuju ke Daratan Tiongkok. Foto Google Earth/THNews

Oleh : Freddy Ilhamsyah PA

Dari hasil pengamatan penulis melalui fasilitas Google Earth pada Selasa 7 Juli 2015 pukul 15:40:25 WIB dapat diketahui bahwa posisi Topan (Typhoon) Chan-Hom saat itu berada dikoordinat 18°29’33.14″Lintang Utara dan 136°23’56.74″Bujur Timur berjarak sekitar 1.707,56 km (73,44 derajat) sebelah Timur Laut dari Kota Metropolitan Manila, Philipina atau sekitar 1.791,39 km (112,61 derajat) sebelah Tenggara dari Kota Taipei, Taiwan, 2.365,55 km (96,52 derajat) sebelah timur-Tenggara dari Hongkong dan 2.434,34 km (95,75 derajat) sebelah timur-Tenggara dari Macao. Posisinya saat itu berada di atas Laut Philipina.

Typhoon Chan-Hom. Foto Google Earth/THNews

Typhoon Chan-Hom. Foto Google Earth/THNews


Sementara menurut data yang dikutip dari Japan Meteorological Agency-Tropical Cyclone Information seperti yang diterbitkan pada Selasa, 7 Juli 2015 pukul 09:40 UTC atau pukul 16:40 WIB berdasarkan analisis pada pukul 09 UTC disebutkan bahwa Topan Chan-Hom memiliki skala besar dan berintensitas kuat posisi pusat berada di koordinat 18°40′(18.7°) Lintang Utara – 135°40′(135.7°) Bujur Timur yang mengarah barat-Barat Laut dengan kecepatan gerak 20 km per jam (12 knot). Tekanan di pusat 965 hPa (hectopascals). Kecepatan angin maksimum dekat pusat 35 meter/detik (70 knot). Hembusan maksimum kecepatan angin 50 meter/detik (100 knot). Area angin 50 knot atau lebih ALL170km (90 mil laut). Area angin 30 knot atau lebih ALL600km (325 mil laut).

Menurut BMKG-Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta, Siklon Tropis Chan-Hom memberikan dampak terhadap kondisi cuaca di Indonesia berupa :

• Gelombang dengan ketinggian 2 sampai 3 meter berpeluang terjadi di wilayah Perairan Kepulauan Sangihe dan Talaud, Laut Maluku bagian Utara, Laut Halmahera, dan Samudra Pasifik utara Halmahera dan Papua Barat.
• Gelombang dengan ketinggian 3-5 meter berpeluang terjadi di Samudera Pasifik sebelah timur Philipina.

Typhoon Nangka. Foto Google Earth/THNews

Typhoon Nangka. Foto Google Earth/THNews


Sedang posisi Typhoon Nangka pada Selasa, 7 Juli 2015 pukul 15:45:10 WIB berada di koordinat 13°34’36.45″Lintang Utara dan 154°45’40.86″Bujur Timur berjarak sekitar 2.046, 72 km (102,40 derajat) sebelah Tenggara di belakang Typhoon Chan Hom dan berjarak sekitar 3.664,55 km sebelah timur dari Kota Metropolitan Manila, Philipina atau berjarak 3.710,80 km (103,73 derajat) sebelah Tenggara dari Taipei Taiwan, 4.439,51 km (95,18 derajat) sebelah timur-Tenggara dari Macao, dan 4.412,74 km (95,65 derajat) sebelah timur-Tenggara dari Hongkong. Posisinya ketika itu berada di pertengahan antara Kepulauan Mariana Utara (Guam/Saipan) dan Kepulauan Marshall di Samudera Pasifik Barat.

Menurut data yang dikutip dari Japan Meteorological Agency-Tropical Cyclone Information seperti yang diterbitkan pada Selasa, 7 Juli 2015 pukul 10:00 UTC atau pukul 17:00 WIB berdasarkan analisis pada pukul 09 UTC disebutkan bahwa Topan Nangka memiliki intensitas sangat kuat posisi pusatnya berada di koordinat 13°55′(13.9°) Lintang Utara – 154°00′(154.0°) Bujur Timur yang mengarah barat-Barat Laut dengan kecepatan gerak 20 km per jam (12 knot). Tekanan di pusat 935 hPa. Kecepatan angin maksimum dekat pusat 50 meter/detik (95 knot). Maksimum hembusan kecepatan angin 70 meter/detik (135 knot). Area angin 50 knot atau lebih ALL150 km (80 mil laut). Area angin 30 knot atau lebih Timur 330 km (180 mil laut) Barat 280 km (150 mil laut).

Severe Tropical Storm Linfa. Foto Google Earth/THNews.

Severe Tropical Storm Linfa. Foto Google Earth/THNews.


Keberadaan STS (Severe Tropical Storm) Linfa Selasa, 7 Juli 2015 pukul 16:23 WIB berlokasi di koordinat 20°29’38.09″Lintang Utara dan 118°54’17.50″Bujur Timur berjarak sekitar 535,83 km (112,51 derajat) sebelah Tenggara dari Hongkong dan 588,30 km (107,67 derajat) sebelah Tenggara dari Macao. Posisinya saat tulisan ini dibuat masih berada di atas wilayah Philipina.

Sementara menurut data yang dikutip dari Japan Meteorological Agency-Tropical Cyclone Information seperti yang diterbitkan pada Selasa, 7 Juli 2015 pukul 13:00 UTC atau pukul 20:00 WIB yang berdasarkan analisis pada pukul 12 UTC disebutkan bahwa Badai Berat (Severe Tropical Storm) Linfa ketika itu posisi pusatnya berada di koordinat 20°55′(20.9°) Lintang Utara – 118°25′(118.4°) Bujur Timur yang mengarah utara-Barat Laut dengan kecepatan perlahan. Tekanan di pusat 980 hPa. Kecepatan angin maksimum dekat pusat 25 meter/detik (50 knot). Hembusan maksimum kecepatan angin 35 meter/detik (70 knot). Area angin 30 knot atau lebih Barat Daya 390 km (219 mil laut), Tenggara 220 km (120 mil laut).

Menurut BMKG-Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta, Siklon tropis LINFA memberikan dampak terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia berupa :

• Hujan ringan – sedang berpotensi terjadi di NAD dan Sumatera Utara.
• Gelombang dengan ketinggian 2 sampai 3 meter berpeluang terjadi di wilayah Perairan barat NAD, Laut Natuna, dan Selat Karimata.
• Gelombang dengan ketinggian 3 sampai 5 meter berpeluang terjadi di wilayah perairan Utara Aceh, Laut Andaman, Laut China Selatan.

Note : Informasi ini ditujukan untuk rekan-rekan FB khusus rekan-rekan BMI yang bekerja di wilayah Philipina, Hong Kong, Macao, Taiwan dan di Daratan Tiongkok. Untuk memantau perkembangan berikutnya silahkan menghubungi Badan Meteorologi setempat.

Pangkalansusu, 07 Juli 2015

Peta prakiraan perjalanan badai dan topan. Gambar: http://severe.worldweather.wmo.int/tc/wnp/

Peta prakiraan perjalanan badai dan topan. Gambar: http://severe.worldweather.wmo.int/tc/wnp/


Pemutakhiran data :

Kondisi Topan CHAN-HOM pada Selasa, 07 Juli pukul 20.00 HKT (waktu Hong Kong)
Posisi: 18°6’Lintang Utara – 135°3’Bujur Timur
Maksimum angin berkelanjutan dekat pusat: 130 km/jam

Chan-hom akan bergerak melintasi Pasifik Utara barat ke arah Kepulauan Ryukyu dan laut utara Taiwan dalam beberapa hari mendatang.

Prakiraan perjalanan Topan Chan-Hom

Prakiraan perjalanan Topan Chan-Hom


Prakiraan Posisi dan Intensitas Topan CHAN-HOM

Waktu dan tanggal : 20:00 HKT 08 Juli 2015
Posisi : 20°9’LU-131°4’BT
Klasifikasi: Topan Berat
Maksimum angin berkelanjutan dekat pusat 155 km/h

Waktu dan tanggal 20:00 HKT 09 Juli 2015
Posisi 24°0’LU-126°5’BT
Klasifikasi: Topan Berat
Maksimum angin berkelanjutan dekat pusat: 175 km/h

Waktu dan tanggal : 20:00 HKT 10 Juli 2015
Posisi: 26°4’LU-122°1’BT
Klasifikasi Topan Super
Maksimum angin berkelanjutan dekat pusat 195 km/h

Waktu dan tanggal : 20:00 HKT 11 Juli 2015
Posisi: 27°8’LU-119°4’BT
Klasifikasi: Topan
Maksimum angin berkelanjutan dekat pusat: 145 km/h

Waktu dan tanggal : 20:00 HKT 12 Juli 2015
Posisi: 30°2’LU-118°7’BT
Klasifikasi: Badai Tropis
Maksimum angin berkelanjutan dekat pusat: 85 km/h
Sumber : Obsevatorium Hong Kong

Prakiraan perjalanan Badai Berat Linfa

Prakiraan perjalanan Badai Berat Linfa


Kondisi Badai Tropis Berat Linfa pada Rabu, 08 Juli 2015 pukul 02:00 HKT (waktu Hong Kong)

Posisi: 21°1’Lintang Utara – 118°8’Bujur Timur (sekitar 500 km sebelah timur-Tenggara dari Hong Kong). Maksimum angin berkelanjutan dekat pusat: 105 km/jam.

Siklon Tropis Linfa diperkirakan pada awalnya akan bergerak perlahan ke utara dan kemudian mengambil jalur yang lebih ke barat hari ini, merayap lebih dekat ke pantai Tenggara Tiongkok secara bertahap.

Waktu dan tanggal : 02:00 HKT 09 Juli 2015
Posisi: 23°0’LU-117°9’BT
Klasifikasi: Badai Tropis Berat
Maksimum angin berkelanjutan dekat pusat: 110 km/jam

Waktu dan tanggal : 02:00 HKT 10 Juli 2015
Posisi: 22°8’LU-113°8’BT
Klasifikasi: Depressi Tropis
Maksimum angin berkelanjutan dekat pusat: 55km/jam

Waktu dan tanggal : 02:00 HKT 11 Juli 2015
Posisi: 21°8’LU-110°9’BT
Klasifikasi: Area Tekanan Rendah
Maksimum angin berkelanjutan dekat pusat: 25km/jam
Sumber : Obsevatorium Hong Kong

Liontin Bergambar Mirip Ulama Sedang Berdzikir

Liontin Bergambar Mirip Ulama Sedang Berdzikir Juara Satu Kontes Batu Akik Di Stabat Minggu,05 April 2015

Liontin Bergambar Mirip Ulama Sedang Berdzikir Juara Satu Kontes Batu Akik Di Stabat Minggu,05 April 2015

Oleh : Freddy Ilhamsyah PA

Subhanaallah…………..Maha Besar Allah sang Maha Pencipta seluruh isi bumi dan langit. Itu ucapan yang meluncur keluar dari mulut penulis secara spontan saat melihat batu permata akik yang sudah dibentuk menjadi Liontin (mainan kalung leher) milik rekan penulis yang tidak ingin disebutkan namanya di Kantin PWP yang berada di kompleks perkantoran PT Pertamina EP Asset-I Pangkalansusu Field, Jum’at, 13 Maret 2015.

Close up Liontin bergambar mirip ulama

Close up Liontin bergambar mirip ulama


Penulis merasa kagum atas kebesaran Allah SWT yang telah mencipta batu akik bergambar unik tersebut dan ketika penulis teliti secara kasat mata, ternyata gambar itu bukan hasil rekayasa pemiliknya. Apalagi ketika sang pemilik memperlihat foto gambar bahan baku yang belum dijadikan liontin.
Bentuk Liontin ketika disenter dari belakang.

Bentuk Liontin ketika disenter dari belakang.


Liontin itu berukuran panjang 4,5 cm; Lebar 3,3 cm; Tebal 0,8 cm berbentuk oval dengan dasar batu berwarna abu-abu kecoklatan, dan gambar berwarna keputih-putihan. Dan kalau disorot dengan senter, dasar batu itu berubah warna jadi orange (warna kuning jeruk).
Bahan baku liontin sebelum dijadikan main kalung (liontin)

Bahan baku liontin sebelum dijadikan main kalung (liontin)


Orang-0rang yang ada di kantin menyampaikan berbagai tanggapan setelah melihat foto bergambar semi abstrak itu. Ada yang bilang mirip Tuan Guru Bassilam, ada yang bilang mirip ulama yang sedang duduk bersila sambil berdzikir, ada pula yang bilang mirip pak Tani, dan ada pula yang bilang mirip orang tua yang sedang bertapa
Akhirnya Liontin ini jadi Sang Juara-I dalam kategori Kelas bebas, unik dan langka

Akhirnya Liontin ini jadi Sang Juara-I dalam kategori Kelas bebas, unik dan langka


Kronologi Liontin

Dijelaskan oleh pemiliknya, bahanbaku batu itu berasal dari kawasan Sawit Sebrang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia yang dibelinya dari seorang laki-laki di daerah Sawit Sebrang beberapa waktu lalu.

Piagam Penghargaan dari Bupati Langkat dan Panpel Kontes.

Piagam Penghargaan dari Bupati Langkat dan Panpel Kontes.


Bertepatan pada peringatan HAUL (Hari Ulang Tahun) ke 88 Tahun 2015 Tuan Guru Babussalam, Syekh Abdul Wahab Rokan yang lahir pada, 19 Rabiul Akhir 1230 H/28 September 1811 M dan wafat pada Jumat, 21 Jumadil Awal 1345 H atau 27 Desember 1926 M di Desa Babussalam, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia, sang pemilik memotong batu itu kepada pak Galung dan yang mengasah batu itu hingga menjadi Liontin adalah Ewin yang berlapak tidak jauh dari lapak pak Galung di Kota Binjai.
Sertifikat dari Nusa Gems Report

Sertifikat dari Nusa Gems Report


Menjawab pertanyaan penulis, sang pemilik Liontin menyatakan akan menjual Liontin itu kepada kolektor yang benar-benar serius seharga Rp5 miliyar (harganya masih bisa dinego).

“Apabila liontin sudah terjual, saya merencanakan akan memberangkat dua orang (1 laki-laki dan 1 perempuan) dari keluarga tidak mampu untuk menunaikan ibadah haji, dan mengeluarkan zakat untuk warga fakir miskin yang berada di Pangkalansusu dan Sawit Sebrang,” ujar sang pemilik.

Kostumnya mirip Tuan Guru Besilam

Kostumnya mirip Tuan Guru Besilam (gambar kiri)


Mengakhir perbincangan singkat dengan penulis, sang pemilik meyakinkan penulis bahwa batu akik liontin maupun bentuk gambar dijamin asli bukan hasil rekayasa dan siap diuji laboratorium bersama peminat yang serius untuk diperoleh sertifikat dari pihak yang berkompoten.
Di dada penulis letak liontin itu

Di dada penulis letak liontin itu


Bagi Anda yang benar-benar serius ingin memiliki liontin ini dapat menghubungi telepon cellular 081361464262 ***

Jangan Sembarangan Menggunakan Dispersant

Oleh : Freddy Ilhamsyah PA

Pendahuluan

Seperti diketahui bahwa kegiatan penajakan/pemboran sumur minyak bumi (crude oil) dilakukan bukan hanya di daratan saja, tapi juga di perairan lepas pantai yang tentunya berpeluang besar/rawan terjadi tumpahan minyak secara tidak sengaja yang berasal dari kegiatan operasional di lepas pantai (offshore), termasuk kebocoran pipa transmisi (loading line), floating hose ketika melakukan mooring (pengapalan minyak mentah) di Single Bouy Mooring/Single Point Mooring di lepas pantai termasuk blow-out.

Sementara untuk yang di darat juga dapat mencemari alur paluh dan perairan di luarnya seperti teluk dan laut baik yang disebabkan oleh bocornya pipa jalur transmisi/loading line maupun akibat terjadi tumpahan minyak dari tangki penimbunan minyak mentah (crude oil) seperti yang sudah terjadi dua kali di Pertamina EP Pangkalansusu.

Apabila telah terjadi kasus semacam itu, maka untuk menanggulangi tumpahan minyak di laut (response to marine oil spill) supaya tidak melebar biasanya dilakukan dengan menggelar oil boom (rangkaian pelampung khusus) untuk melokalisir/mengurung/membatasi atau menggiring tumpahan minyak di perairan.

Setelah minyak berhasil dilokalisir, maka untuk mengambil kembali (recovery) tumpahan minyak yang berjumlah besar dilakukan dengan peralatan Oil Skimmer yang berperang untuk mengambil/menyerok atau mengisap minyak dari perairan dengan membedakan karaktreristik berat jenis air dan minyak untuk kemudian memompakannya ke tempat penampungan/penyimpanan sementara di lokasi operasi Penanggulangan Tumpahan Minyak dengan mempergunakan Containment Bag/Pollutank/Floating Tank ada yang berbentuk capsule/ellipse, pillow, dinghy dan drum. Apabila jumlah tumpahan minyak sudah berkurang atau sedikit, maka peran pembersihannya digantikan dengan memakai bahan penyerap yang disebut Oil Sorbent. Selain itu juga digunakan bahan pengurai, yaitu oil dispersant yang akan dibahas sesuai judul tulisan ini.

Penanggulangan Tumpahan Minyak

Di dalam penanggulangan tumpahan minyak di laut terdapat empat langkah utama yang perlu menjadi perhatian untuk para pihak terkait yaitu :

1. Pembersihan tumpahan secara alamiah (nature degradation).
2. Pelingkupan dan pengambilan minyak secara mekanis (oil containment & recovery).
3. Penggunaan dispersant untuk membantu penguraian minyak secara alamiah (oil dispersant).
4. Pembersihan daerah pesisir pantai (shoreline clean-up).

Pendekatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan laut. Pengunaan dispersant secara benar dan efektif yang ditunjang oleh sumber daya manusia yang terlatih akan dapat memberikan hasil yang diharapkan dalam usaha penanggulangan tumpahan minyak.

Dalam tulisan ini penulis mencoba memaparkan secara umum, kapan dan dimana dispersant dapat digunakan. Sebab menurut pengamatan penulis sejak belasan tahun lalu ternyata penggunaan oil dispersant yang pernah dilakukan oleh pihak Pertamina EP Pangkalansusu tidak sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk mengatasi/penanggulangan tumpahan minyak mentah (crude oil) dalam beberapa kasus.

Faktor yang harus diperhatikan

Dalam suatu kejadian tumpahan minyak biasanya sebelum menentukan langkah penanggulangan yang akan diambil ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian kita adalah : Lokasi tumpahan, Jarak tumpahan ke pesisir pantai, Sensitif area, Besarnya jumlah tumpahan, Kondisi angina, Temperatur, Ombak, Jenis peralatan penanggulangan tumpahan minyak yang tersedia (seperti oil boom, absorbent/oil skimmer dll), dan Sumber daya manusia yang tersedia serta terlatih. Hal ini sangat penting untuk jadi perhatian kita dalam hal menentukan suatu keberhasilan dan efektifnya usaha penanggulangan tumpahan minyak di perairan laut.

Penggunaan dispersant merupakan salahsatu pendekatan yang sering dilakukan di dalam penanggulangan tumpahan minyak di perairan laut. Adapun manfaat dari penggunaan dispersant adalah bertujuan untuk :

1. Membantu penguraian minyak secara alamiah dengan memanfaatkan bahan kimia “surfactant.”
2. Mengurangi jumlah minyak yang diperkirakan dapat memberi dampak terhadap lingkungan laut, terutama daerah pesisir pantai dan daerah sensitif lainnya.
3. Mencegah terbentuknya emulsi minyak yang bersifat persisten.
4. Mengurangi bahaya kebakaran karena minyak (hydrokarbon) berifat mudah terbakar (volatile).
5. Meningkatkan angka biodegradasi minyak.

Manfaat yang disebut di atas dapat berlangsung, karena adanya bantuan “surfactant” (surface active agent) yang terdapat di dalam dispersant, surfactant ini memiliki kemampuan untuk menguraikan minyak menjadi butiran-butiran kecil, yaitu dengan cara menurunkan tekanan interfasial antara minyak dan air. Proses ini mungkin terjadi karena molekul surfactant mengandung dua sisi yang masing-masing memiliki sifat hydrophilic (suka air) dan oleophilic (suka minyak). Oleh karena itu bila kita tebarkan surfactant (dispersant) pada tumpahan minyak, tumpahan itu akan segera terurai dan membentuk butiran kecil yang mudah dilarutkan oleh air. Umumnya semakin kecil ukuran butiran minyak akan semakin besar kemungkinan minyak larut dalam air.

Faktor yang mempengaruhi proses penguraian (dispersion)

Dra. Elviera T.Putri M.Sc dalam tulisannya berjudul “Dimana dan Bilamana Oil Dispersant Digunakan?” terbit di majalah Warta Pertamina edisi no.4/XXX/1994 halaman 4 menyebutkan, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya proses penguraian minyak (oil dispersion) adalah :

a. Berat jenis, Spesifik gravity, kekentalan (viscosity), dan daya racun (toxin) minyak.
b. Kondisi lingkungan, antara lain salinitas air, temperatur, cuaca (penguapan, emulsifikasi, biodegradasi dan lain-lain).

Jenis-Jenis Dispersant

Dispersant dapat dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan bahan pelarut yang digunakan yaitu :

1. Dispersant dengan bahan dasar air (water-based dispersant), umumnya dispersant jenis ini kurang efektif dan tidak direkomendasikan penggunaannya. Bahan dasar air yang digunakan adalah air tawar (frest water) bukan air laut (sea water).
2. Dispersant dengan bahan dasar alkohol atau pelarut glycol-ether. Dispersant jenis ini memiliki keefektivan yang tinggi dan paling banyak digunakan.
3. Dispersant dengan bahan dasar pelarut hidrokarbon atau konvensional. Dispersant jenis ini mengandung 10 sampai 25 persen surfactant, tidak dapat menggunakan pelarut air karena akan menurunkan efektivitasnya.

Di mana dan kapan Dispersant dapat digunakan ?

Dispersant umumnya digunakan di perairan laut yang cukup dalam dan memiliki turbelensi yang tinggi. Dispersant tidak direkomendasikan penggunaannya di perairan yang dangkal dan dekat dengan daratan (teluk, muara, dan lain lain), karena turbelensinya rendah. Di beberapa Negara pengunaan dispersant di perairan dengan kedalaman kurang dari 10 meter tidak diperbolehkan.

Untuk lebih mengetahui di mana dan kapan dispersant dapat digunakan, kita lihat pada penjelasan sebagai berikut :

A. Dispersant dapat digunakan apabila :

o Tumpahan minyak bergerak menuju ke daratan dan ditunjang oleh perangkat serta metoda pengawasan yang memadai, untuk meminimisasi dampak terhadap lingkungan.
o Upaya pembersihan secara fisik/mekanik kurang memadai.
o Cuaca/kondisi laut tidak memungkinkan untuk menggunakan alat-alat penanggulangan tumpahan dalam usaha pembersihan tumpahan minyak.

B. Bila dan di mana dispersant tidak digunakan :

o Di perairan yang dangkal dengan sirkulasi air yang buruk seperti di daerah teluk, muara dan lain-lain.
o Di perairan tawar yang merupakan sumber air minum, seperti sungai, danau dan lain-lain.
o Di perairan payau yang digunakan sebagai sumber air pendingin dengan sistem “once through.”
o Untuk minyak berat pada temperature air laut kurang dari 100°F.
o Digunakan langsung di atas terumbu karang (coral reefs).
o Di daerah sekitar hamparan rumput laut (sea grass).

Penggunaan dispersant dapat meminimisasi jumlah tumpahan minyak yang bergerak ke arah habitat pesisir pantai (mangrove, salt marshes, estuaries, dan lain-lain), juga akan mengurangi sifat adhesi (melekat) minyak. Untuk itulah dispersant hendaknya digunakan pada tumpahan minyak masih jauh dari pesisir pantai (daratan).

Kesimpulan

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan dispersant dalam usaha penanggulangan tumpahan minyak memiliki nilai positif dan negatif. Nilai positif dari penggunaan dispersant adalah respon yang cepat, menghilangkan pencemaran pantai dan bahaya kebakaran, lebih murah dari pada penanggulangan secara fisik/mekanik, mengurangi jumlah burung yang tercemar, mencegah terbentuknya “chocolate mousse”. Selain itu juga dapat menanggulangi tumpahan minyak dalam kondisi cuaca dan laut yang cukup bervariasi jika dibandingkan dengan metoda penanggulangan tumpahan minyak lainnya. Dengan pemberian dispersant maka akan dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan laut terutama daerah sensitif, disamping proses biodegradasi minyak dapat ditingkatkan.

Menurut data Oil Spill IMO yang ada pada penulis terkait dengan upaya penanggulangan tumpahan minyak di laut disebutkan bahwa disamping nilai positif di atas juga ada nilai negatifnya dalam penggunaan dispersant, yaitu minyak tetap berada di dalam air, tetapi sudah terdispersi. Dapat mengganggu ekosistem laut dan gangguan-gangguan lainnya, dan dispersant tidak dapat digunakan di perairan dangkal.

Yang jelas, tidak semua dispersant efektif digunakan untuk semua jenis minyak dan semua kondisi, dispersant juga tidak boleh digunakan di perairan tawar karena akan bersifat racun terhadap lingkungan setempat. Dispersant juga bukan merupakan cara terbaik dalam menanggulangi tumpahan minyak apabila cara penanggulangan secara mekanik (oil boom, oil skimmer, pemakaian absorbent) masih dapat dilakukan. Untuk diketahui bahwa penggunaan jenis dispersant di Indonesia hanya boleh jika telah diijinkan oleh DMGB/Pertambangan, di laut perlu juga rekomendasi dari pihak Perhubungan Laut.

Oleh sebab itu di dalam menetapkan kebijaksanaan dalam usaha penanggulangan tumpahan minyak beberapa faktor sebaiknya dievaluasi ulang guna penentuan cara penanggulangan yang efektif dan tidak bertentangan dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Satu hal yang perlu menjadi perhatian khusus bagi para pihak terkait yaitu bahwa :

1. Dampak tumpahan minyak bumi yang mencemari pantai sangat membahayakan bagi kehidupan manusia, ekologi sumber daya seperti burung, mamalia laut, ekosistem laut, ekosistem garis pantai dan ekosisten kelautan seperti plankton, alga, kerugian dan kerusakan fasilitas serta citra perusahaan yang buruk apabila tidak dikelola dengan baik dan benar.
2. Limbah minyak bumi adalah masuk dalam kategori bahan beracun dan berbahaya oleh karenanya harus ditangani sesuai dengan persyaratan yang berlaku (Kepmen-LH No.128 Tahun 2003 tentang Tata cara dan persyaratan teknis pengolahan limbah minyak bumi dan tanah terkontaminasi oleh minyak bumi).
3. Untuk melakukan landfil pengelola harus melaporkan rencana kegiatan tersebut ke KLH sebelum pelaksanaan dimulai.
4. Untuk membersihkan pantai dari tumpahan minyak bumi dapat menggunakan metoda sesuai dengan situasi dan kondisi pantai.

Penutup

Mengakhiri tulisan ini penulis coba mengingatkan kembali ingatan para pihak terkait bahwa ketika Pertamina Health Savety & Environment Training Center Sungai Gerong menggelar pelatihan IMO Level I beberapa tahun lalu, sebelum praktek lapangan (drill) di wilayah perairan Pelabuhan Khusus Pangkalansusu dimulai, maka teori pelaksanaannya terlebih dahulu dipaparkan melalui beberapa slide pdf diantaranya berjudul “Dispersant” di slide no.11 judul “Dimana Oil Dispersant Tidak Digunakan ?” yang berisikan 8 point larangan penggunaan Oil Dispersant sebagai berikut (slide no.11) :

1. Perairan yang dangkal dengan sirkulasi air yang buruk seperti di daerah teluk*, muara, dll.
2. Di perairan tawar yang merupakan sumber air minum (sungai, danau).
3. Di perairan payau yang digunakan sebagai sumber air untuk proses desalinasi dan air pendingin.
4. Untuk minyak berat pada temperatur air laut < 100 F.
5. Digunakan langsung di atas terumbu karang (coral reefs).
6. Di daerah sekitar hamparan rumput laut (sea grass).
7. Penggunaan dispersant dapat meminimasi jumlah tumpahan minyak yang bergerak ke arah habitat pesisir pantai (mangrove, sea grass dan lain-lain), juga akan mengurangi sifat adhesi (melekat) minyak.
8. Dispersant hendaknya digunakan pada tumpahan minyak saat tumpahan minyak jauh dari pesisir pantai (daratan).

Namun dalam prakteknya, ketika dilakukan drill (praktek lapangan) hal di atas diduga telah dilanggar oleh pihak penyelenggara.

Tampak secara kasat mata bahwa peserta pelatihan dalam peragaan ketika melaksanakan penyemprotan dispersant telah bertentangan dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Tampak secara kasat mata bahwa peserta pelatihan dalam peragaan ketika melaksanakan penyemprotan dispersant telah bertentangan dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.


Penulis tidak tahu persis bahan apa yang disemprotkan oleh peserta pelatihan yang memakai Hand Lances Sprayer Set dari atas speedboat (seperti terlihat di gambar), tetapi petugas peserta pelatihan tidak memakai Alat Keselamatan Kerja Perorangan (AKKP) seperti Masker (lihat gambar terlampir) padahal ketentuannya sudah diterangkan dalam slide no.4 dan no.5 dari slide pdf berjudul “Dispersing.”

Semoga rangkum tulisan dari berbagai sumber yang telah disebutkan dalam tulisan ini dapat mengingatkan kembali ingatan para pihak terkait mengenai tatacara penggunaan oil dispersant yang baik dan benar sesuai peruntukannya. ***

Antara Kencing, Waktu dan Konservasi

Oleh : Edi Nofendra
Edi Nofendra-1Kencing, buang air kecil, berkemih, adalah beberapa kata dengan pengertian yang sama, yaitu kegiatan/ upaya tubuh untuk mengeluarkan cairan sisa-sisa metabolisme tubuh, cara lain yang dilakukan tubuh kita adalah dengan mengeluarkannya melalui pori-pori kulit berupa keringat. Lalu apa pula hubungan antara kencing, waktu dan konservasi ?

Di saat rasa ingin kencing melanda, yang dalam bahasa gaul biasa juga disebut dengan istilah “HIV” atau Hasrat Ingin Vipis , akhirnya saya meringankan langkah menuju toilet yang berada pada lantai 8 hotel Grand Jatra Balikpapan, dimana saya mengikuti sebuah acara pada hari ini. Sebagaimana toilet yang pada hotel berbintang pada umumnya, maka toilet atau rest room ini sangat bersih, nyaman, sehingga kegiatan kencing sebagai kegiatan biologis biasa, akan menjadi lebih “luar biasa” ketika dilakukan di toilet yang bersih dan nyaman seperti ini.

Hal menarik adalah ketika mata saya tertuju ke urinoir timer yang ada pada urinoir yang kebetulan saya gunakan. Di situ ada timer, yang display nya menampilkan waktu, saya lihat waktu menunjukkan pukul 11.35 Wita (Waktu Indonesia Tengah). Apa sih menariknya? Sepintas kita mungkin akan melihat itu hanya sebuah penunjuk waktu, ya minimal orang kencing tetap ingat dengan waktu. Namun saya pikir pasti ada nilai yang lebih besar dibalik ini, yang besarnya nilai tersebut lebih dari sekedar sebagai alat untuk mengingatkan kita akan waktu.

Sewaktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar puluhan tahun yang lalu, saya masih ingat kalau minyak dan gas bumi serta barang tambang mineral lainnya adalah sumber daya alam yang jumlahnya terbatas dan tidak dapat diperbaharui. Di sisi lain air adalah sumber daya alam yang jumlahnya tidak terbatas, dan dianggap bisa terperbaharui dengan sendirinya oleh alam yang pada era 80-an tersebut memang siklus iklim masih sedemikian “tertibnya” sehingga pola musim hujan sangat gampang ditebak.

Namun sekarang zaman sudah berubah. Seiring dengan semakin meningkatnya populasi dunia, ternyata air yang dulunya adalah barang “murah” dan jumlahnya tidak terbatas, sekarang sudah menjadi sumber daya mahal dengan jumlahnya yang juga terbatas. Tidak salah kalau Bappenas melaporkan saat ini ada sekitar 120 juta orang Indonesia belum mengakses sanitasi yang layak. Menurut Direktur Pemukiman dan Perumahan Bappenas, Nugroho Tri Utomo, menjelaskan sejak merdeka sampai sekarang, akses terhadap sanitasi yang layak baru sebesar 61,1% dan air minum 67,8% penduduk.

Kenyataan kalau keterbatasan air bersih adalah sesuatu yang memang saat ini sudah terjadi. Bersyukurlah kalau kita saat ini masih bisa masuk dalam kategori penduduk yang mempunyai akses ke sumber air bersih, bagaimana dengan yang tidak punya akses? Apakah tidak terjadi pelanggaran HAM di sini? Sebagaimana kita ketahui bahwa hak akses terhadap air adalah merupakan salah satu hak azasi manusia karena memang tanpa adanya dukungan air maka kehidupan di muka bumi ini tidak akan berlangsung.

Bertolak dari hal ini mudah-mudahan kita bisa menyerap apa kaitan antara kencing, waktu dan konservasi. Tiga kata yang secara maknawiyah berjauhan, namun hari ini bisa kita dekatkan. Ketika kita kencing maka ada sumber daya air yang kita gunakan untuk pembilasan, dan apa pun ceritanya air bilasan ini tetap menjadi air kotor yang harus diolah sedemikian rupa sehingga bisa menjadi air bersih lagi. Ada energi dan sumber daya lagi yang akan kita gunakan untuk proses produksi air bersih ini, apalagi dari sumber air kotor. Dengan kencing kita akan sadar dengan waktu, betapa kurun yang hanya sekitar 20 tahun telah membuat sebuah pergeseran posisi air sebagai salah sumber daya alam karunia Allah SWT, nah apa yang akan terjadi dalam kurun 30 tahun, 40 tahun atau bahkan 50 tahun ke depan? Saya berkeyakinan kalau pola konsumsi kita terhadap sumber daya tidak kita perbaiki, bukan hal yang mustahil demi setetes air manusia bisa saling bentrok satu sama lainnya.

Dari sinilah hebatnya toilet hotel berbintang yang saya rasakan, hebat bukan dalam artian karena dibalut dengan dinding batu granit nan mewah, atau pun dari upaya petugas kebersihannya yang memang terlatih untuk membuat toilet dalam kondisi nyaman dan bersih, namun hebat karena pada toilet ini sebuah proses konservasi air sedang berlangsung. Di sinilah dipertontonkan secara tidak kasat mata kepada kita sebagai pengunjung toilet, ada kaitan yang jelas antara kegiatan buang air kecil yang dilakukan, dengan waktu yang semakin berjalan ke depan, dan konservasi sumber daya alam yang harus kita lakukan. Memang tepat lah pula apa kata orang-orang, “Bumi ini bukan warisan dari orang tua atau leluhur kita, namun titipan dari anak cucu kita.”

Balikpapan, 16 Oktober 2014

LET’S SAVE OUR EARTH

Planet Earth
Planet Bumi Mulai Menggeliat dan Gelisah

Oleh: Freddy Ilhamsyah PA

Sejak beberapa decade terakhir, planet bumi yang diperkirakan telah berusia 4,6 miliar tahun, mulai aktip menggeliat dan gelisah karena kulitnya secara terus-menerus digaruk, dikeruk dan dicabik-cabik serta dihujam dengan tusukan sampai ke dalam “daging” sedalam ribuan meter oleh manusia.

Mereka menggali kulit bumi dengan alasan klasik, untuk mencari mineral dan energi demi kelangsung hidup umat manusia di planet bumi ini. Dengan penuh kerakusan mereka terus mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya mineral (emas, batubara, air bawah tanah dan bahan tambang lainnya) dan energi (minyak dan gas bumi serta uap panas bumi) serta “menggundulkan” hutan termasuk hutan mangrove.

Apabila hal ini tidak secepatnya dikendalikan khususnya yang menyangkut ketamakan dan kerakusan umat manusia dalam melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam yang teramat sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan dan keutuhan planet bumi, maka dikawatirkan, manusia sudah harus bersiap-siap untuk mencari planet lain sebagai pengganti hunian baru umat manusia, karena planet bumi sudah tidak nyaman dan tidak layak lagi untuk dijadi sebagai tempat hunian manusia.

Akibat ulah dan tingkah umat manusia yang tidak ramah dengan sumber daya alam sejak ribuan tahun lalu dalam mengkonsumsi sumber daya mineral dan energi yang kian diperparah lagi oleh perbuatan manusia modern saat ini, planet bumi kini mulai kian terasa geliatannya melalui gempa bumi, tsunami, gunung-gunung pada meletus muncul bandai/topan, hujan deras, tanah longsor, banjir bandang dan banjir ROB serta munculnya perubahan iklim yang ekstrim, dan munculnya berbagai macam jenis penyakit semua itu adalah akibat ulah manusia itu sendiri. Sehingga alam jadi murka.

Seperti diketahui bahwa pada dasarnya bumi mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfer) yang melindung permukaan Bumi dari angin surya, sinar ultraviolet dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti Bumi hingga ketinggian sekitar 700 kilometer.

Lapisan udara ini dibagi menjadi Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Ionosfer,Termosfer, dan Eksosfer.

Lapisan Ozon

Sementara yang sangat mengkawatirkan yaitu kondisi atmosfir pada ketinggian 19 – 48 km (12 – 30 mil) di atas permukaan Bumi yang mengandung molekul-molekul ozon. Konsentrasi ozon di lapisan ini mencapai 10 ppm dan terbentuk akibat pengaruh sinar ultraviolet Matahari terhadap molekul-molekul oksigen. Peristiwa ini telah terjadi sejak berjuta-juta tahun yang lalu, tetapi campuran molekul-molekul nitrogen yang muncul di atmosfer menjaga konsentrasi ozon relatif stabil.

Walaupun Ozon dikenal sebagai gas beracun sehingga bila berada dekat permukaan tanah akan berbahaya bila terhisap dan dapat merusak paru-paru. Namun, lapisan ozon di atmosfer adalah sebagai pelindung kehidupan di planet bumi karena ia melindunginya dari radiasi sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker. Oleh karena itu, para ilmuwan sangat khawatir ketika mereka menemukan bahwa bahan kimia kloro fluoro karbon (CFC) yang biasa digunakan sebagai media pendingin dan gas pendorong spray aerosol, memberikan ancaman terhadap lapisan ini. Bila dilepas ke atmosfer, zat yang mengandung klorin ini akan dipecah oleh sinar Matahari yang menyebabkan klorin dapat bereaksi dan menghancurkan molekul-molekul ozon. Setiap satu molekul CFC mampu menghancurkan hingga 100.000 molekul ozon. Oleh karena itu, penggunaan CFC dalam aerosol dilarang di Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia. Bahan-bahan kimia lain seperti bromin halokarbon, dan juga nitrogen oksida dari pupuk, juga dapat menyerang lapisan ozon.

Menipisnya lapisan ozon dalam atmosfer bagian atas diperkirakan menjadi penyebab meningkatnya penyakit kanker kulit dan katarak pada manusia, merusak tanaman pangan tertentu, memengaruhi plankton yang akan berakibat pada rantai makanan di laut, dan meningkatnya karbondioksida (lihat pemanasan global) akibat berkurangnya tanaman dan plankton. Sebaliknya, terlalu banyak ozon di bagian bawah atmosfer membantu terjadinya kabut campur asap, yang berkaitan dengan iritasi saluran pernapasan dan penyakit pernapasan akut bagi mereka yang menderita masalah kardiopulmoner. [1]

Lubang Ozon

Pada awal tahun 1980-an, para peneliti yang bekerja di Antartika mendeteksi hilangnya ozon secara periodik di atas benua tersebut. Keadaan yang dinamakan lubang ozon (suatu area ozon tipis pada lapisan ozon) ini, terbentuk saat musim semi di Antartika dan berlanjut selama beberapa bulan sebelum menebal kembali. Studi-studi yang dilakukan dengan balon pada ketinggian tinggi dan satelit-satelit cuaca menunjukkan bahwa persentase ozon secara keseluruhan di Antartika sebenarnya terus menurun. Penerbangan-penerbangan yang dilakukan untuk meneliti hal ini juga memberikan hasil yang sama.
Global_Warming_Map
Pemanasan Global

Pemanasan global (global warming) adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia”[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas kalor lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Global_Warming_Predictions
Penyebab pemanasan global

Efek rumah kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
Mauna_Loa_Carbon_Dioxide
Efek umpan balik

Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembapan relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika suhu global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.

Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.

Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.
Regulasi

Pada tahun 1987, telah ditandatangani Protokol Montreal, suatu perjanjian untuk perlindungan terhadap lapisan ozon. Protokol ini kemudian diratifikasi oleh 36 negara termasuk Amerika Serikat. Pelarangan total terhadap penggunaan CFC sejak 1990 diusulkan oleh Komunitas Eropa (sekarang Uni Eropa) pada tahun 1989, yang juga disetujui oleh Presiden AS George Bush. Pada Desember 1995, lebih dari 100 negara setuju untuk secara bertahap menghentikan produksi pestisida metil bromida di negara-negara maju. Bahan ini diperkirakan dapat menyebabkan pengurangan lapisan ozon hingga 15 persen pada tahun 2000. CFC tidak diproduksi lagi di negara maju pada akhir tahun 1995 dan dihentikan secara bertahap di negara berkembang hingga tahun 2010. Hidrofluorokarbon atau HCFC, yang lebih sedikit menyebabkan kerusakan lapisan ozon bila dibandingkan CFC, digunakan sementara sebagai pengganti CFC, hingga 2020 pada negara maju dan 2016 di negara berkembang. Untuk memonitor berkurangnya ozon secara global, pada tahun 1991, National Aeronautics and Space Administration (NASA) meluncurkan Satelit Peneliti Atmosfer. Satelit dengan berat 7 ton ini mengorbit pada ketinggian 600 km (372 mil) untuk mengukur variasi ozon pada berbagai ketinggian dan menyediakan gambaran jelas pertama tentang kimiawi atmosfer di atas.

Terkait dengan beberapa uraian di atas, di dalam beberapa ayat di Al Qur’an ada disebutkan, “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak daripada apa yang telah mereka makmurkan. Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, (tapi mereka ingkar dan telah mendapatkan balasan yang setimpal). Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” (Qs. Al-Rum [30]:9);

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih kuat daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi. Lalu Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung pun dari azab Allah.” Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang yang sebelum mereka itu lebih banyak (jumlahnya), lebih hebat kekuatannya, dan (lebih banyak) bekas-bekasnya di muka bumi, tapi apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka (dari azab Ilahi).” (Qs. Ghafir [40]:21 & 82);

“(Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.” (Qs. Muhammad [47]:10).

Oleh sebab itu, marilah mulai sekarang kita harus segera menyelamatkan planet bumi yang nota bene juga berarti menyelamat umat manusia dan mahluk hidup lainnya berikut seluruh kehidupan yang ada di planet biru ini, yaitu Planet Bumi. Let’s save our earth.

Sumber : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, dan sumber-sumber lainnya.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.386 pengikut lainnya