Antara Kencing, Waktu dan Konservasi


Oleh : Edi Nofendra
Edi Nofendra-1Kencing, buang air kecil, berkemih, adalah beberapa kata dengan pengertian yang sama, yaitu kegiatan/ upaya tubuh untuk mengeluarkan cairan sisa-sisa metabolisme tubuh, cara lain yang dilakukan tubuh kita adalah dengan mengeluarkannya melalui pori-pori kulit berupa keringat. Lalu apa pula hubungan antara kencing, waktu dan konservasi ?

Di saat rasa ingin kencing melanda, yang dalam bahasa gaul biasa juga disebut dengan istilah “HIV” atau Hasrat Ingin Vipis , akhirnya saya meringankan langkah menuju toilet yang berada pada lantai 8 hotel Grand Jatra Balikpapan, dimana saya mengikuti sebuah acara pada hari ini. Sebagaimana toilet yang pada hotel berbintang pada umumnya, maka toilet atau rest room ini sangat bersih, nyaman, sehingga kegiatan kencing sebagai kegiatan biologis biasa, akan menjadi lebih “luar biasa” ketika dilakukan di toilet yang bersih dan nyaman seperti ini.

Hal menarik adalah ketika mata saya tertuju ke urinoir timer yang ada pada urinoir yang kebetulan saya gunakan. Di situ ada timer, yang display nya menampilkan waktu, saya lihat waktu menunjukkan pukul 11.35 Wita (Waktu Indonesia Tengah). Apa sih menariknya? Sepintas kita mungkin akan melihat itu hanya sebuah penunjuk waktu, ya minimal orang kencing tetap ingat dengan waktu. Namun saya pikir pasti ada nilai yang lebih besar dibalik ini, yang besarnya nilai tersebut lebih dari sekedar sebagai alat untuk mengingatkan kita akan waktu.

Sewaktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar puluhan tahun yang lalu, saya masih ingat kalau minyak dan gas bumi serta barang tambang mineral lainnya adalah sumber daya alam yang jumlahnya terbatas dan tidak dapat diperbaharui. Di sisi lain air adalah sumber daya alam yang jumlahnya tidak terbatas, dan dianggap bisa terperbaharui dengan sendirinya oleh alam yang pada era 80-an tersebut memang siklus iklim masih sedemikian “tertibnya” sehingga pola musim hujan sangat gampang ditebak.

Namun sekarang zaman sudah berubah. Seiring dengan semakin meningkatnya populasi dunia, ternyata air yang dulunya adalah barang “murah” dan jumlahnya tidak terbatas, sekarang sudah menjadi sumber daya mahal dengan jumlahnya yang juga terbatas. Tidak salah kalau Bappenas melaporkan saat ini ada sekitar 120 juta orang Indonesia belum mengakses sanitasi yang layak. Menurut Direktur Pemukiman dan Perumahan Bappenas, Nugroho Tri Utomo, menjelaskan sejak merdeka sampai sekarang, akses terhadap sanitasi yang layak baru sebesar 61,1% dan air minum 67,8% penduduk.

Kenyataan kalau keterbatasan air bersih adalah sesuatu yang memang saat ini sudah terjadi. Bersyukurlah kalau kita saat ini masih bisa masuk dalam kategori penduduk yang mempunyai akses ke sumber air bersih, bagaimana dengan yang tidak punya akses? Apakah tidak terjadi pelanggaran HAM di sini? Sebagaimana kita ketahui bahwa hak akses terhadap air adalah merupakan salah satu hak azasi manusia karena memang tanpa adanya dukungan air maka kehidupan di muka bumi ini tidak akan berlangsung.

Bertolak dari hal ini mudah-mudahan kita bisa menyerap apa kaitan antara kencing, waktu dan konservasi. Tiga kata yang secara maknawiyah berjauhan, namun hari ini bisa kita dekatkan. Ketika kita kencing maka ada sumber daya air yang kita gunakan untuk pembilasan, dan apa pun ceritanya air bilasan ini tetap menjadi air kotor yang harus diolah sedemikian rupa sehingga bisa menjadi air bersih lagi. Ada energi dan sumber daya lagi yang akan kita gunakan untuk proses produksi air bersih ini, apalagi dari sumber air kotor. Dengan kencing kita akan sadar dengan waktu, betapa kurun yang hanya sekitar 20 tahun telah membuat sebuah pergeseran posisi air sebagai salah sumber daya alam karunia Allah SWT, nah apa yang akan terjadi dalam kurun 30 tahun, 40 tahun atau bahkan 50 tahun ke depan? Saya berkeyakinan kalau pola konsumsi kita terhadap sumber daya tidak kita perbaiki, bukan hal yang mustahil demi setetes air manusia bisa saling bentrok satu sama lainnya.

Dari sinilah hebatnya toilet hotel berbintang yang saya rasakan, hebat bukan dalam artian karena dibalut dengan dinding batu granit nan mewah, atau pun dari upaya petugas kebersihannya yang memang terlatih untuk membuat toilet dalam kondisi nyaman dan bersih, namun hebat karena pada toilet ini sebuah proses konservasi air sedang berlangsung. Di sinilah dipertontonkan secara tidak kasat mata kepada kita sebagai pengunjung toilet, ada kaitan yang jelas antara kegiatan buang air kecil yang dilakukan, dengan waktu yang semakin berjalan ke depan, dan konservasi sumber daya alam yang harus kita lakukan. Memang tepat lah pula apa kata orang-orang, “Bumi ini bukan warisan dari orang tua atau leluhur kita, namun titipan dari anak cucu kita.”

Balikpapan, 16 Oktober 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s