Pemuda Sebagai Agen Perubahan


Oleh : Muhammad Adrani Daulay,SH

Problematika pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang sungguh kompleks, mulai dari masalah pengangguran, krisis mental, krisis eksistensi, hingga masalah dekadensi moral. Budaya permisif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan hedonis, serba instant, dan tercabut dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosial.

Sehingga muncul pertanyaan, apakah masih relevan pemuda dikatakan sebagai agen perubahan di masa saat ini ? Tentu saja jawabannya adalah ya ! Sebab masih ada pemuda Indonesia yang peduli dengan bangsanya. Tinggal bagaimana caranya agar pemuda lainnya bisa turut berkontribusi untuk perubahan bangsa Indonesia.

Dalam konteks internasional, kepemudaan (youth) merupakan isu sekaligus problematika global karena menyentuh tataran nilai sosial dan budaya masyarakat hampir di seluruh belahan bumi ini. Masalah kepemudaan pun telah berkembang sebagai wacana global dalam kurun waktu lebih dari satu dekade terakhir. Pembahasannya cenderung menempati posisi strategis dalam berbagai agenda pertemuan berskala bilateral, regional dan multilateral.

Keprihatinan terhadap kondisi pemuda saat ini harus tetap diprihatinkan tanpa mengabaikan perubahan itu sendiri. Karena suatu perubahan tidak perlu menunggu orang banyak. Dia akan bergulir dengan sendirinya bersama para pemuda yang teguh dengan komitmennya untuk perubahan.

Bagaimana melakukan perubahan ?

Pemuda sebagai agen perubahan tidak akan mampu melakukan perubahan yang signifikan bila tidak didukung dengan sebuah sistem atau perangkat-perangkat pendukung. Menurut hemat saya, organisasi adalah sarana paling efektif untuk menginisiasi dan melakukan perubahan tersebut. Kita tidak dapat melakukan perubahan secara individual karena kemampuan kita yang terbatas. Kita memerlukan komunitas yang konsisten dengan perubahan tersebut. Disinilah kemudian lahir peran organisasi.

Organisasi yang saya maksudkan tidak berarti organisasi yang terlihat saja (eksis) namun bisa juga organisasi yang terselubung. Dulu ketika zaman penjajahan Jepang, zaman ketika organisasi-organisasi pemuda dilarang berdiri selain yang didirikan oleh mereka. Lahirlah tokoh-tokoh seperti Sukarni, Yusuf, dan Kunto yang mendorong Proklamasi Kemerdekaan. Dalam organisasi akan lahir diskusi-diskusi dan budaya yang mendukung adanya sebuah perubahan. Perubahan di lingkungan sekitar hingga skala yang paling luas sekalipun.

Pangkalansusu, 1 Desember 2011

Penulis adalah Wakil Sekretaris Bidang Hukum dan Ham DPD-II Partai Golkar Langkat

4 Komentar

  1. Daulay

    wah,.. menyaingi bakat bpk Freddy sbg jurnalis,??… sy akan berusaha kondisikan ke TVone atau ke Metro TV gantiin pak karni dan mas suryo,..hehehe

  2. Mantaplah itu……….

  3. mantap lah pak…cuma ada fakta bahwa ternyata masih banyak oemdua kita yang tidak tamat sekolaha, walaupun sudah ada sekolah gratis, wajr sembilan tahun , bahakn otda tidak menjamin pemuda dapat mencapai pendidikan yang tinggi, murah dan terjangkau….hehhee

    salam kenal pak,..

  4. Salam kenal juga Riza. Ya, apa lagi yg mau dikatakan lagi karena pemerintah kita belum mampu utk memenuhi harapan sebagian besar masyarakat dari keluarga tdk mampu. Penyebabnya dpt diduga mungkin karena uang negara banyak yg dikorup oleh org2 tertentu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s